Friday, 2 September 2011

KEWAJIBAN GURU TERHADAP SISWA

KEWAJIBAN GURU TERHADAP SISWA
Oleh: Lasino


A. PENDAHULUAN
Guru merupakan pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (UU RI No: 14 tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen).
Guru merupakan subjek dalam proses belajar mengajar harus memiliki motivasi dan peran aktif dalam setiap kegiatan belajar. Guru hendaknya dapat memperhatikan siswanya dengan kasih sayang, mengasuh dengan penuh perhatian (D.ii.48).
Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu dan memudahkan siswa dalam mencapai tujuan belajar guna membimbing mereka menjadi manusia yang berkualitas. Buddha menekankan kepada enam puluh orang Arahat untuk mengemban misi dharma atas dasar kasih sayang, demi kebaikan, membawa kesejahteraan, keselamatan dan kebahagiaan bagi orang banyak (Vin.i.21).
Guru berhubungan dengan siswa dalam kegiatan belajar mengajar dan sebaliknya. Berkenaan dengan hakekat pendidikan, pendidikan merupakan proses interaksi manusia yang ditandai oleh keseimbangan antara kedaulatan subyek didik dengan kewibawaan pendidik (Sutomo, 1999:21).
“Buddha sebagai guru mampu menerangkan tentang 2, 3, 5, 6, 8, 18, 36 macam perasaan dalam penyajian yang berbeda. Dhamma telah ditunjukkan oleh-Ku dalam penyajian yang berbeda dan setelah dhamma ditunjukkan oleh-Ku dalam penyajian yang berbeda diharapkan para siswa mengetahui, menerima apa yang dinyatakan dengan baik sehingga para siswa berdiam dalam kerukunan bagaikan susu dengan air memandang satu sama lain dengan tatapan yang ramah” (M.i.389).

Perilaku menyimpang dari siswa beragam, dari membuang sampah permen karet di gang-gang sekolah, berisik, mencuri, berkelahi, tidak disiplin dalam belajar, membolos dan terlambat masuk sekolah. Gejala-gejala tersebut membuat guru menjadi tidak bersemangat dalam mengajar, berkonflik dengan siswa, stres, dan terganggu emosinya (Danim, 2002:191-192).
Guru merupakan faktor terpenting dalam pencapaian tujuan pendidikan. Hal ini disebabkan karena guru merupakan pembimbing yang langsung berhubungan dengan siswa dalam situasi belajar-mengajar. Dalam proses belajar-mengajar di sekolah melibatkan beberapa unsur yaitu : guru, siswa, materi, metode, media, penilaian dan tujuan yang hendak dicapai. Unsur-unsur tersebut akan berfungsi jika guru sebagai pembimbing mampu mengelola dan memanfaatkannya (Suparmin, 2004:6).
Guru dituntut memiliki kemampuan, motivasi dan etos kerja yang tinggi agar dapat menyelenggarakan dan melaksanakan tugas dengan baik. Prinsip dasar kewajiban guru terhadap siswanya terdapat dalam Sigalovada Sutta yaitu: “Melatih siswa dengan baik, mengajar siswa hingga mahir, memperdalam pengetahuan siswa dalam ilmu dan kesenian, berbicara baik tentang siswa diantara para sahabat dan kawannya, serta menjaga kesejahteraan siswa dari setiap jurusan (D.iii.189).

Hubungan guru dan peserta didik dalam pembelajaran memegang peranan penting, seorang guru mendidik dan melatih siswa dengan baik sesuai dengan keahliannya, dan semua ilmu pengetahuan yang dikuasai, diajarkan secara mendalam, guru membuat siswanya menguasai semua materi pelajaran yang diberikan, tidak hanya masalah keilmuan saja, guru berkewajiban menjaga siswanya dalam berbagai hal, sehingga siswa memiliki perilaku yang terpuji sekaligus terjaga keselamatannya, dengan demikian seorang guru pantas membicarakan kebaikan siswanya kepada orang lain (reinforcement), siswa menghormati guru, melayani guru, bertekad keras menerima pelajaran dan siswa memberi persembahan jasa kepada guru.
Masyarakat cenderung menunjuk guru sebagai salah satu penyebab minimnya kualitas lulusan siswa. Kritikan mulai dari ketidak efektifnya guru dalam menjalankan tugas, kurangnya motivasi dan etos kerja guru, serta ketidakmampuan guru dalam mendidik dan mengajar siswa. Karakteristik guru menurut Tevijja Sutta yaitu: guru harus mengerti makna demi makna yang diajarkan, guru harus mampu mempertanggungjawabkan perkataannya (D.i.234).
Guru tanpa memiliki motivasi dan etos kerja yang tinggi pada organisasi akan cenderung melakukan perenggangan (alienasi) terhadap pekerjaan, seperti kurang melibatkan diri dalam bekerja, kurang antusias dalam mengajar, selalu menolak kebijakan nilai-nilai dan aturan-aturan organisasi, kurang nyaman dan cenderung meninggalkan pekerjaan.
“Dalam penggunaan waktu, tanpa disiplin individu berdalih terlalu pagi lalu enggan bekerja, terlalu siang juga tidak bekerja. Terlalu dingin atau terlalu panas, terlalu lapar atau terlalu kenyang dan sebagainya, menjadi alasan untuk bermalasan. Dengan demikian individu menunda atau menghindari tugas dan kesempatan yang baik. Kebiasaan malas, lambat, tidak menghargai waktu dinyatakan Buddha sebagai salah satu faktor yang menyebabkan merosotnya kesejahteraan.” (D.iii.184).

Buddha memberi petunjuk kepada Ananda agar memenuhi lima hal, yaitu :
“Mengajar secara bertahap, mengajar dengan alasan atau berdasar sebab yang mendahului sehingga dimengerti, mengajar terdorong karena cinta kasih, mengajar tidak bertujuan untuk mendapatkan keuntungan pribadi, mengajar tanpa merugikan diri sendiri ataupun orang lain” (A.iii.184).

Guru merupakan salah satu kunci utama keberhasilan pendidikan dalam rangka memenuhi standar mutu, baik standar produk dan pelayanan maupun standar kustomer pendidikan pada umumnya. Mutu pendidikan diartikan sebagai keberhasilan pendidikan dalam mengubah tingkah laku anak didik (Danim, 2002:34).
Berdasarkan fenomena di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang kewajiban guru terhadap siswa menurut kajian Buddhis secara sistematis sesuai metodologi kepustakaan.


B. KONSEP KEWAJIBAN GURU TERHADAP SISWA MENURUT KAJIAN BUDDHIS

1. Pengertian Guru
Acharya merupakan istilah yang umum dalam agama Buddha, baik Theravada, Mahayana dan Tantrayana. Guru (Acharya) adalah seorang guru yang mentahbiskan seorang siswa yang berusaha untuk melatih diri dan menghayati ajaran Buddha Dharma. Pada umumnya seorang Acharya adalah Bhikkhu minimal Thera yang disepakati oleh Sangha berfungsi sebagai guru spiritual di bidang moralitas/pengenalan Dharma (Toto, Tanpa tahun).
Guru merupakan perilaku mengajar. Guru memegang peran yang amat sentral dalam keseluruhan proses belajar-mengajar. Guru dituntut mampu mewujudkan perilaku mengajar secara tepat agar menjadi perilaku belajar yang efektif dalam diri siswa/pelajar. Guru dituntut untuk mampu menciptakan situasi belajar-mengajar yang kondusif (Surya, 2003:80).
Guru merupakan orang yang mendengar dan menyebabkan orang lain mendengar, seorang yang belajar mengajar, seorang yang tahu dan memberi tahu dengan jelas, seorang yang cakap mengenali kecocokan atau ketidak cocokan serta tidak menimbulkan pertengkaran. Ia tidak bimbang di depan orang banyak, ceramahnya tidak kehilangan arah, tanpa ada yang disembunyikan, tidak ragu-ragu berbicara, dan tidak menjadi bingung atau marah menghadapi pertanyaan (A.v.196).
Guru dituntut untuk mampu meningkatkan kualitas belajar para peserta didik (siswa) dalam bentuk kegiatan belajar sehingga dapat menghasilkan pribadi mandiri, pelajar efektif, pekerja produtif, dan anggota masyarakat yang baik. Guru memegang peranan penting dalam menciptakan suasana belajar mengajar yang sebaik-baiknya. Guru tidak hanya sebagai pengajar dalam arti penyampai pengetahuan tetapi lebih meningkat sebagai perancang pengajaran, pengevaluasi hasil belajar, dan sebagai direktur belajar (Surya, 2003:81).
Guru sebagai perancang pengajaran (designer of instruction), guru diharapkan mampu merancang kegiatan belajar-mengajar secara efektif dengan suasana yang kondusif bagi siswa. Guru memiliki pengetahuan yang cukup tentang prinsip-prinsip belajar sebagai dasar dalam merancang kegiatan belajar-mengajar, seperti merumuskan tujuan, memilih bahan, memilih metoda, kegiatan evaluasi.
Guru sebagai pengelola pengajaran (manager of instruction), guru berperan mengelola seluruh proses belajar-mengajar dengan menciptakan kondisi-kondisi belajar setiap siswa dapat belajar secara efektif dan efisien. Guru sebagai penilai hasil belajar siswa (evaluator of student learning), guru dituntut untuk berperan secara terus menerus mengikuti hasil-hasil belajar yang dicapai oleh siswa dari waktu ke waktu.
Guru berperan sebagai pengarah belajar (director of learning), guru berperan untuk senantiasa menimbulkan, memelihara, dan meningkatkan motivasi siswa untuk belajar. Guru mempunyai peran sebagai “motivator” keseluruhan kegiatan belajar siswa. Sebagai motivator belajar guru harus mampu untuk: (1) membangkitkan dorongan siswa untuk belajar, (2) menjelaskan secara konkrit kepada siswa yang dapat dilakukan pada akhir pengajaran, (3) memberikan ganjaran untuk prestasi yang dicapai dikemudian hari, (4) membuat aturan (regulasi) perilaku siswa (Surya, 2003:82).
Guru sebaiknya memiliki lima kualitas, sebagaimana seorang Bhikkhu senior, yaitu :
Ia adalah orang yang menguasai analisis logika; memiliki analisis sebab akibat; menguasai analisis tata bahasa; menguasai analisis segala sesuatu yang dapat dikenali; apa yang harus dilakukan oleh seorang pengikut, menjalani kehidupan suci, besar atau kecil, cakap atau aktif, berusaha meneliti persoalan; siap melakukan dan membuatnya terlaksana (A.iii.113).

Buddha merupakan seorang guru yang memiliki keahlian yang sempurna dalam orasi atau khotbah untuk menyakinkan orang agar dapat merubah cara hidup mereka, mengikuti nilai-nilai yang baru dan bertujuan baru. Khotbah beliau disusun secara rapi, sistematik, penyampaiannya dengan logika serta mudah diterima. Beliau sering mengajarkan Dhamma dengan perumpamaan dan analogi yang ada dan berlaku pada saat itu serta mudah diterima oleh siswanya.
2. Pengertian Siswa
Siswa merupakan salah satu komponen manusiawi yang menempati posisi sentral dalam proses belajar-mengajar (Sutomo, 1999:27-28). Dalam proses belajar-mengajar, siswa sebagai pihak yang ingin meraih cita-cita, memiliki tujuan dan kemudian ingin mencapainya secara optimal. Siswa akan menjadi faktor “penentu”, sehingga menuntut dan dapat mempengaruhi segala sesuatu yang diperlukan untuk mencapai tujuan belajarnya.
Siswa merupakan perilaku belajar (Surya, 2003:73). Dalam psikologi pendidikan, belajar diartikan sebagai suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya.
Perilaku belajar yang terjadi pada siswa dikenal dengan baik dalam proses maupun hasilnya. Proses belajar dapat terjadi apabila individu merasakan adanya kebutuhan dalam dirinya yang tidak dapat dipenuhi dengan cara-cara yang reflek atau kebiasaan. Siswa ditantang untuk mengubah perilaku yang ada untuk mencapai tujuan. Dalam mengubah perilaku ini individu melakukan berbagai perbuatan mulai dari yang paling sederhana sampai ke yang paling kompleks.
Siswa (perilaku belajar) bersumber dari berbagai aspek perilaku lainnya baik yang bersifat internal maupun eksternal. Aspek-aspek internal peserta didik (siswa) antara lain aspek potensi, prestasi, kebutuhan, minat, sikap, pengalaman, kebiasaan emosi, motivasi, kepribadian, perkembangan, keadaan fisik, cita-cita. Aspek eksternal adalah latar belakang keluarga, sosial budaya, ekonomi, lingkungan fisik.
Perilaku belajar yang efektif disertai proses mengajar yang tepat, maka proses belajar-mengajar diharapkan mampu menghasilkan manusia-manusia yang memiliki karakteristik sebagai: (1) pribadi mandiri, (2) pelajar efektif, (3) pekerja produktif dan (4) anggota masyarakat yang baik (Surya, 2003:76) Pribadi mandiri adalah pribadi yang mampu mengenal dan menerima dirinya sendiri dan lingkungannya, mampu mengarahkan dirinya dan pada gilirannya dapat mewujudkan dirinya secara optimal. Siswa efektif merupakan siswa yang mampu melakukan kegiatan belajar dengan mendapatkan hasil sebaik-baiknya dan dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupannya. Siswa yang efektif mampu melakukan kegiatan belajar secara terus menerus seusia dengan tuntutan dan kebutuhan.
3. Hubungan Guru dan Siswa
Pertumbuhan watak jiwa kepribadian siswa sangat ditentukan oleh kualitas gurunya. Guru yang baik dan bertanggung jawab selalu mencurahkan perhatian sepenuhnya buat siswanya. Guru dipandang sebagai orang tua oleh siswanya. Guru harus memperlakukan siswanya seperti anaknya sendiri (Dhammasubho, 2003:29).
Guru mendidik dan melatih siswanya dengan baik sesuai dengan keahlian yang dimilikinya, mengajar siswa hingga mahir, memperdalam pengetahuan siswanya dalam ilmu dan seni. Tidak hanya soal keilmuan saja yang diperhatikan guru berkewajiban dalam berbagai hal, sehingga siswa memiliki perilaku yang terpuji sekaligus terjaga keselamatannya. Guru pantas membicarakan kebaikan siswanya kepada orang lain. Siswa selalu menghormati gurunya, melayani mereka bertekad untuk belajar, menaruh perhatian sewaktu menerima pelajaran dan memberikan persembahan jasa kepadanya (D.iii.189).
Buddha sebagai guru menunjukkan jalan dan setiap orang harus berusaha menempuh jalannya sendiri (Dh.276), mengikuti apa yang ditunjukkan oleh Buddha, guru sebaiknya berperan sebagai fasilitator yang mendorong siswa mengembangkan inisiatif, daripada menggunakan otoritas menentukan segala-galanya bagi peserta didik. Untuk itu guru harus terbuka dan dapat menerima gagasan-gagasan siswa dalam arti berusaha memahaminya, menerima tidak harus berarti menyetujui.
Guru yang baik mengajar sekaligus mendidik. Mengajar memberi ilmu, mendidik memberi contoh. Guru mengajar demi kepentingan anak didiknya. “Bagaimanapun Cunda, atas dasar cinta kasih, apa yang harus dilakukan oleh seorang guru, yaitu mengusahakan kebahagiaan bagi murid-muridnya. Itulah yang aku lakukan, terdorong oleh cinta kasih kepadamu” (M.i.46). Guru menjadi teladan. “Sebagaimana ia mengajar orang lain, demikianlah hendaknya ia berbuat” (Dh.159). Jika seorang tenggelam dalam Lumpur, tidak mungkin terjadi ia sendiri menarik orang lain yang tenggelam dalam Lumpur (M.i.45).
Guru konsisten yaitu berbuat seperti apa yang diucapkannya, dan berbicara seperti apa yang diperbuatnya. Guru yang baik, memiliki kompetensi dan terampil dalam moralitas, konsentrasi, dan kebijaksanaan, mengajar siswa menjadi mantap sepertinya, sedangkan guru yang tercela tidak terampil, terlepas dari apakah siswa-siswa mendengarkan atau tidak mendengarkan dia. Guru pandai tetapi siswanya tidak mendengarkan dia juga dipandang tercela (D.i.230-231).
Guru dan murid saling melindungi, seperti dalam kasus permainan akrobat bambu, guru berkata kepada Medakathalika: Engkau jagalah aku, dan aku akan menjagamu. Medakathalika menanggapi: bukan begitu, engkau menjaga dirimu sendiri dan aku akan menjaga diriku, masing-masing menjaga dan melindungi dirinya sendiri. Buddha berpendapat bahwa dengan melindungi diri sendiri seseorang melindungi orang lain, melindungi orang lain seorang melindungi diri sendiri (S.v.168).
Hubungan antara siswa dengan Acharya diibaratkan seperti hubungan seorang anak dengan ayahnya didasari keyakinan dan kasih sayang. Seorang Acharya harus dapat memberikan contoh dan suri tauladan yang positif kepada siswanya, harus dapat membimbing siswa menuju pengertian benar dan mengkoreksi hal-hal yang negatif.
Deskripsi hubungan guru dan siswa merupakan hubungan yang saling bergantungan, dimana guru tanpa seorang siswa tidak dapat melakukan aktifitas pengajaran, dan murid tanpa guru tidak akan dapat belajar secara terarah.

C. FAKTOR-FAKTOR PENUNJANG TERLAKSANANYA JKEWAJIBAN GURU TERHADAP SISWA MENURUT KAJIAN BUDDHIS

1. Kemampuan Guru
Pertapa Gotama dalam usia 35 tahun, selama 6 tahun dengan perjuangan berat yang menakjubkan, tanpa dibantu dan tanpa dibimbing oleh perantara apapun, mengandalkan usaha dan kebijaksanaan sendiri, membasmi semua kekotoran, mengakhiri proses ketamakan, dan menyadari segala sesuatu melalui pengetahuan intuitif sendiri, menjadi Buddha-seorang yang sempurna atau yang telah sadar. Beliau sebagai Buddha Gotama, menjadi seorang Buddha dengan usaha sendiri (Narada, 1995:26).
Buddha berasal dari istilah Pali “budh”, mengerti, atau disadarkan. Mengerti sepenuhnya tentang Empat Kebenaran Mulia, bangun dari tidur dalam kebodohan. Beliau tidak hanya mengerti tetapi menjelaskan dan menerangkan Ajaran/Dharma kepada yang lain, Beliau disebut Samma Sambuddha-Maha Sempurna untuk membedakan dari Pacceka (perorangan) Buddha yang hanya mengerti Ajaran tetapi tidak mampu menerangkan kepada yang lain. Buddha berkata: “Ia sudah menyelesaikan (Tathagata), yang dihormati (Araham), Maha Sempurna (Samma Sambuddha), yang mengetahui, melihat dan mengenal Sang Jalan (Narada, 1995:27).
Buddha tidak mempunyai Guru untuk Penerangan SempurnaNya. “Na me acariyo atthi”. Buddha tidak menerima Pengetahuan duniawi dari Guru-Guru awamNya, tetapi pengetahuan luar biasa yang Beliau peroleh dengan kebijaksanaan intuitif sendiri. Khotbah pertamaNya menerangkan bahwa cahaya timbul dalam benda-benda yang tidak didengar sebelumnya. Mengetahui segala sesuatu yang harus diketahui, Beliau mendapat kunci untuk semua pengetahuan, disebut Sabbannu-Yang Maha Tahu (Narada, 1995:28).
Dua bulan setelah penerangan Beliau, pada bulan purnama asadha (Juli) Buddha membabarkan khotbah pertama untuk lima orang pertapa. Dhammacakka merupakan nama yang diberikan untuk khotbah pertama Buddha. Dhamma berarti kebijaksanaan atau pengetahuan, dan Cakka berarti mendirikan atau membangun. Dhammacakka berarti mendirikan atau membangun kebijaksanaan. Dhammacakkappavattana berarti Penjelasan terinci dari Pembangunan kebijaksanaan. Dhamma juga bisa diartikan sebagai Kesunyataan, dan Cakka sebagai roda. Dhammacakkappavattana berarti Pemutaran atau Pembangunan Roda kesunyataan (S.v.435).
Buddha Gotama menjelaskan Jalan Tengah yang ditemukan sendiri, menjadi intisari ajaran. Beliau menasihati lima pertapa yang percaya pada pertapaan ketat agar menghindari pengumbaran nafsu dan penyiksaan diri yang ekstrim, karena keduanya tidak membawa pada kedamaian dan Penerangan Sempurna. 1) menghalangi kemajuan batin seseorang, 2) melemahkan kecerdasan seseorang. Beliau mengkritik kedua pandangan itu dan menyampaikan jalan yang praktis, masuk akal dan membawa manfaat, satu-satunya jalan yang membawa pada kesucian sempurna dan Pembebasan Mutlak (Narada, 1995:55).
Buddha mengingatkan untuk menghindari dua hal yang ekstrim. Beliau berkata, “Ada dua hal ekstrim (anta) jangan dijadikan perlindungan oleh pertapa (pabbajitena). Dua istilah ‘anta’ berarti akhir atau ekstrim serta ‘pabbajita’ berarti yang telah meninggalkan dunia. Buddha berkata satu hal yang ekstrim adalah kemelekatan pada kesenangan indria (kamasukkhallikanuyoga). Buddha menjelaskan bahwa ekstrim ini rendah, kasar, duniawi, tidak mulia dan tidak bermanfaat. Ekstrim lain yaitu keterikatan pada penyiksaan diri (attakilamathanuyoga). Buddha menyatakan ini menyakitkan, tidak mulia dan tidak bermanfaat (Narada, 1995:63).
Dua hal yang ekstrim dilepaskan Tathagata dengan memahami Jalan Tengah (Majjhima Patipada) yaitu: Pengertian Benar (sammã ditthi), Pikiran Benar (sammã sankappa), Ucapan Benar (Sammã Vaca), Perbuatan Benar (sammã kammanta), Mata Pencaharian Benar (sammã ājiva), Usaha Benar (sammã vāyāma), Perhatian Benar (sammã sati), dan Konsentrasi Benar (sammã samadhi) yang membawa pandangan (cakkhu) dan pengetahuan (nana), serta mengarah pada kedamaian (vupasamaya), kebijaksanaan mulia (abhinnaya), penerangan (sambodhaya) dan Nibbana. Membawa pada pencapaian Empat Kesunyaataan Mulia spiritual, memahami Empat Kesunyataan Mulia, dan akhirnya memahami Tujuan terakhir yaitu Nibbana (Narada, 1995:63).
Empat Kesunyataan Mulia yang ditemukan oleh Buddha dengan kemampuan sendiri. Kesunyataan ini dalam bahasa Pali disebut ariyasaccani, karena diungkapkan oleh seorang Ariya Agung, Buddha, yang telah bebas dari nafsu keinginan Kesunyataan Mulia pertama adalah dukkha, merupakan Kesunyataan Mulia yang kedua adalah sebab penderitaan yaitu nafsu keinginan (tanha), Kesunyataan Mulia ke tiga adalah berhentinya penderitaan secara tuntas yaitu Nibbana, tujuan terakhir semua umat Buddha, dengan mengembangkan Jalan Ariya berunsur Delapan merupakan Kesunyataan Mulia ke empat (Narada, 1996:38-41).
Buddha berkata bahwa kesunyataan mulia pertama, Dukkha harus dimengerti dan diterima sebagai fakta yang jelas dan menyeluruh (parinneyya). Kesunyataan mulia kedua, sumber dukkha harus disingkirkan, dihancurkan dan dicabut sampai keakar-akarnya (pahatabha). Kesunyataan mulia ketiga, terhentinya Dukkha harus direalisasikan, diselami (sacchikatabha). Kesunyataan mulia keempat, jalan terhentinya Dukkha, harus dilaksanakan dengan baik dan konskuen (bhavetabba). Dalam pernyataan Buddha, adanya tekanan dalam menghadapi masing-masing kesunyataan mulia, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dengan memperlihatkan aspek ini siswa memahami, menyelami realitas kehidupan dan mewujudkan perilakunya dalam kepribadian yang utuh.
Buddhisme merupakan suatu ajaran kompleks dan disampaikan oleh Buddha dengan berbagai cara dan metode. Metode-metode tersebut beliau lakukan dengan menyesuaikan siswa atau orang yang beliau hadapi menurut tingkatan pemikiran yang ada dan berbeda-beda. Cara atau metode yang dilaksanakan Buddha dalam mengajar para siswa-Nya ada tiga, yaitu:
(1) Beliau mengajar agar mereka yang mendengar dapat mengetahui secara mendalam dan melihat dengan benar apa yang pantas untuk diketahui dan dilihat, (2) Beliau mengajar dengan alasan-alasan, sehingga mereka yang mendengar, dapat merenungkan (Dhamma) dan melihatnya dengan benar (bagi diri mereka sendiri), (3) Beliau mengajar dengan suatu cara yang luar biasa, sehingga mereka yang mengikuti ajarannya dapat memperoleh faedah-faedah sesuai dengan praktek mereka. (A.i.276).

Metode-metode tersebut dilaksanakan oleh Buddha dalam membabarkan ajarannya dan terbukti bisa memberikan pengertian dan pengetahuan yang sangat berguna bagi para siswa-Nya. Pelaksanaan pembelajaran memerlukan ketelitian untuk memahami aspek-aspek yang ada dalam individu yang akan melaksanakan kegiatan belajar-mengajar. Metode ditujukan kepada siswa yang menjadi objek kegiatan belajar-mengajar bagi pemindahan ilmu pengetahuan dari guru kepada siswa-siswanya (Kittiphalo, 2003:47-48).
Metode pengajaran bertapa dari Beliau, yaitu proses kemajuan dan peningkatan dari yang terendah hingga yang tertinggi, cara ini dibandingkan dengan cara proses belajar memanah dan menghitung (Lay, 2000:119). Metode yang diusulkan dalam proses penyelidikan mengenai semua pengetahuan adalah observasi dan analisa. Belajar menghasilkan perubahan-perubahan. Tidak semua perubahan merupakan hasil belajar. Perubahan akibat dari suatu proses belajar bersifat konstan dan merupakan hasil dari interaksi aktif subyek dengan lingkungannya.
Buddha mengemukakan kepada Moggallana, bagaimana seharusnya dibedakan antara guru yang benar dan suci terhadap guru yang sesat.
“Ada guru yang menganggap dirinya suci, padahal berlawanan dengan faktanya, dan murid-muridnya tahu bahwa sang guru sesat, persoalannya bagaimana mereka dapat berlaku lain dari yang disenangi gurunya, karena itu harus dapat dibedakan cara hidup, penampilan, ajaran, pengetahuan, dan kebijaksanaan dari para guru, benar atau keliru” (A.iii.122).

Buddha tidak menyarankan penggunaan cara-cara magis dan supernatural untuk mengajar sekalipun menguasai berbagai mukjizat. Buddha menggunakan kekuatan ajaran sebagai keajaiban mengajar (anusasani-patihariya), yang menunjukkan alasan atau sebab untuk dipertimbangkan, sehingga orang mau melatih diri dan menyingkirkan apa yang buruk (D.i.214).
Samaññapala-Sutta menyebutkan enam guru beserta ajarannya (D.i.53-59). Purana Kassapa, yang disebut pertama dalam Samaññaphala-sutta, mengajarkan doktrin tanpa-aksi (akiriyavāda) (D.i.52-53); menyangkut adanya validitas perbedaan moral. Makkhali Gosala (Ajivika), bertahan hidup di India sampai periode menengah, mengajarkan doktrin fatalisme yang menyangkal adanya sebab-akibat (ahetukavada) dan menyatakan bahwa seluruh proses kosmik secara kaku dikontrol oleh prinsip yang disebut takdir atau nasib (niyati); para makhluk tidak memiliki kontrol kehendak atas tindakan-tindakan mereka melainkan bergerak tanpa daya terperangkap dalam cengkeraman nasib (D.i.53-54). Ajita Kesakambalin adalah seorang nihilis moral (natthikavāda) yang menjabarkan filosofi meterialis yang menolak adanya kehidupan lain dan retribusi kamma (D.i.55); doktrinnya selalu dikutip oleh Buddha sebagai contoh model pandangan salah di antara alur tindakan yang tidak bajik. Pakudha Kaccayana mengajarkan atomisme. Dengan dasar itu dia menolak prinsip-prinsip dasar moralitas (D.i.56). Sanjaya Belatthiputta, seorang skeptis, menolak memberikan pendapat mengenai masalah-masalah moral dan filosofis. Dia mengatakan bahwa pengetahuan seperti itu berada di luar kemampuan manusia untuk membuktikannya (D.i.59). Guru keenam, Nigantha Nataputta (Mahavira), leluhur histories dari Jainisme, mengajarkan bahwa ada pluralitas jiwa utuh yang terperangkap di dalam materi karena ikatan-ikatan kamma sudah habis lewat praktek penyiksaan diri yang amat berat (D.i.57). Keenam guru ini disebut sebagai enam guru besar (chalabhijatiyo).
Buddha mengajarkan Dhamma dengan pengetahuan tinggi yang dapat dipahami (abhinnaya-dhammadesana), bukan pengetahuan yang tidak dapat di pahami, memperlihatkan kebenaran supaya orang lain ikut memiliki pengetahuan dan berpandangan benar. Beliau mengajarkan Dharma dengan hubungan sebab akibat (sanidana-dhamma desana), bukan tanpa hubungan sebab akibat. Ia mengajarkan Dharma yang menakjubkan dan praktis meyakinkan (sappatihariya-dhamma desana). Karena alasan yang baik Ia mengingatkan, karena alasan yang baik Ia memberi petunjuk (A.i.276).
2. Ajaran/Materi
Masalah sentral dalam agama Buddha adalah penderitaan manusia. Penderitaan bersumber pada keinginan yang rendah (tanha). Keinginan timbul tergantung pada faktor lain yang mendahuluinya. Dalam merumuskan rangkaian sebab musabab yang saling bergantungan (paticcasamupada), Buddha menempatkan urutan pertama kebodohan (avijja). “yang lebih buruk dari semua noda itu adalah kebodohan. Kebodohan merupakan noda yang paling buruk. Para Bhikkhu, singkirkan noda ini dan jadilah orang yang tidak ternoda” (Dh.243). Agama Buddha memandang bahwa kebodohan merupakan akar penyebab penderitaan dan menyebabkan pikiran yang tidak berkembang menjadi gangguan pencapaian kedamaian, maka seseorang harus menekankan dalam hidupnya untuk mengembangkan mental dan proses pendidikan agar tujuan mulianya tercapai.
Buddha mengajar para siswa dengan ajaran secara bertahap seperti dalam Khuddakapatha mengenai pertanyaan-pertanyaan Si Anak Lelaki (kumarapanham), yaitu:
Eka nama kim? Sabbe satta aharatthitika, Dve nama kim? Naman ca rupanca, Tini nama kim? Tisso vedana, Cattari nama kim? Cattari ariyasaccani, Panca nama kim? Pancupadanakkhanda, Cha nama kim? Cha ajjhattikani ayatanani, Satta nama kim? Satta bhojjhanga, Attha nama kim? Ariyo atthangiko maggo, Nava nama kim? Nava sattavasa, Dasa nama kim? Dasah’angehi samannagato araha ti pavuccati (Kh.iv.76-88).

Buddha memberi penjelasan tentang [kata] ‘satu’ adalah semua makhluk hidup ditopang oleh makanan atau kehidupan mereka lewat makanan. Individu menjadi tidak bernafsu melihat ketidak kekalan dalam bentukan-bentukan mental, semua makhluk adalah individu yang mengakhiri dukkha dan mencapai kemurnian dalam arti tertinggi (Dh.277). Yang dimaksudkan Buddha dengan [kata] ‘dua’ adalah Nama dan Rupa (dengan menggunakan) cara mengajar sehubungan dengan kebenaran. [kata] ‘tiga’ adalah tiga (tisso) jenis perasaan (S.iv.204). [kata] ‘empat’ adalah empat fondasi kewaspadaan (S.v.435), (empat kebenaran mulia tentang dukkha, asal mula dukkha, terhentinya dukkha, jalan menuju pada berhentinya dukkha). [kata] ‘lima’ adalah lima kelompok dari apa yang dipengaruhi oleh kemelekatan (upadanakkhanda) (S.iii.47). [kata] ‘enam’ adalah Enam Landasan di dalam diri (ayatanani) (S.iv.174). [kata] ‘tujuh’ yaitu Tujuh faktor Pencerahan Spiritual (Bojjhanga) (S.v.32). [kata] ‘delapan’ yaitu Jalan Mulia berunsur delapan (Attangika Magga). [kata] ‘sembilan’ adalah Sembilan tempat kediaman para makhluk (Nava sattavasa=sattanam avasa). [kata] ‘sepuluh’ adalah Individu yang memiliki 10 faktor dinyatakan Arahat (Bhikkhu memiliki kecakapan pandangan benar, kecakapan niat benar, kecakapan ucapan benar, kecakapan tindakan benar, kecakapan penghidupan benar, kecakapan usaha benar, kecakapan kewaspadaan benar, kecakapan konsentrasi benar, kecakapan pengetahuan benar, kecakapan pembebasan benar, demikianlah seorang Bhikkhu dapat disebut sebagai individu yang cakap (A.v.221).
Buddha membabarkan jalan pembebasan selama empat puluh lima tahun. Beliau dikenal sebagai guru para dewa dan manusia (sattha devamanusanam) dan pembimbing manusia. Disiplin moral (sila), meditasi (samadhi) dan kebijaksanaan (panna) yang dicapai berdasarkan perealisasian keadaan sebenarnya dan kehidupan merupakan dasar dan jalan yang diajarkanNya. Hal ini dihubungkan belajar seumur hidup dan meditasi yang ditujukan pada latihan dan mengendalikan pikiran atau batin. Penekanan untuk pengembangan mental atau pikiran dan proses pendidikan agar tujuan mulia dapat tercapai, dimana kebodohan sebagai sumber dari penderitaan.
Agama Buddha merupakan jalan atau metode untuk membawa manusia mengenali tujuan kehidupan yang sesungguhnya. Caranya bukan menjadikan manusia membayangkan sesuatu yang jauh, tetapi dengan mengenali realitas yang terjadi pada dirinya. Cita-cita Kebuddhaan bukan sesuatu yang terpisah dari keadaan diri seseorang (Priastana, 2000:138). Buddha mengajak siswanya untuk mengenali dirinya, dengan segala kelemahan dan kekuatannya, dan mewujudkan suatu pribadi yang mandiri, yang diperumpamakan Buddha dengan Jadilah Pulau Bagi Dirimu Sendiri (Dh.236). Mengenal diri dan menjadi pulau bagi dirimu sendiri adalah dua kalimat kunci yang merupakan dua prinsip dasar dari suatu jalan proses pendidikan anak di sekolah, maupun proses kebuddhaan dari siswa Buddha.
Buddha seorang guru. Dharmanya adalah jalan untuk mencapai pembebasan. Buddha mengajak siswanya untuk menghadapi realitas kenyataan dunia sesungguhnya, kenyataan diri dan kehidupan manusia. Dengan mengenali realitas adalah dukkha, maka tujuannya yaitu pembebasan dukkha, pencapaian kebahagiaan mutlak, kesempurnaan.
Buddha sebagai guru mengajar para dewa dan manusia dengan menggunakan cara atau metode yang tepat. Beliau selalu melihat keadaan batin para siswa-Nya. Jika keadaan batin para siswa-Nya cukup bersih, maka diberikan pelajaran Dhamma yang cukup tinggi seperti cattari ariya saccani. Jika keadaan batin para siswa-Nya itu belum cukup bersih, maka diberikan pelajaran Dhamma yang ringan seperti anupubbikatha, sehingga para siswa Buddha yang mau mendengar Dhamma dengan sungguh-sungguh dapat mengerti Dhamma dengan baik. Ajaran Buddha (Dharma) dipandang sebagai jalan atau cara mencapai tujuan yaitu pembebasan dari penderitaan. Sebagai rakit, Dharma Buddha merupakan metode pengenalan diri, realitas dan akhirnya penyadaran sempurna tentang realitas, dunia dan diri manusia.
Buddha sebagai guru mengajar siswanya dengan demokratis, penuh toleransi, dan tidak otoriter-doktriner. Beliau sabar dan perhatian mendengarkan siswanya mengemukakan permasalahannya dan mengajukan pertanyaan, dengan welas asihnya menjelaskan duduk perkaranya dan memberitahu jalan keluarnya. Banyak siswa terbangun kesadarannya, terbebas dari masalahnya, dan akhirnya mencapai kesempurnaan dirinya.
Masyarakat bukan hanya merupakan jumlah total dari orang perorang. Tanpa disertai kekuatan struktural usaha perorangan mudah terkalahkan oleh kekuatan melawan yang ada ditengah masyarakat. Untuk memperbaiki dunia, yang perlu diperbaiki adalah orang dalam hubungan dinamis dengan masyarakat, bukan orang yang terpisah dalam masyarakatnya. Suatu perubahan struktural dibutuhkan untuk memperbaiki orang dan dunia. Buddha tidak hanya mengajarkan reformasi spiritualitas personal, tetapi juga struktural. Beliau mendirikan Sangha, suatu komunitas monastik yang membawa orang individual dan kelompok mengatasi penderitaan dan mencapai pencerahan.
Buddha tidak menginginkan adanya ketergantungan umat pada otoritas seseorang atau segolongan orang tertentu, dengan menempatkan Dhamma sebagai pelita atau pelindung. Dharma adalah supra sistem yang menjadi acuan dan kontrol dari proses pendidikan. Dharma dipandang sebagai pelita yang menerangi kegelapan. Buddha mengajarkan: “Peganglah teguh Dhamma sebagai pelita, peganglah teguh Dhamma sebagai pelindungmu,” berarti seseorang menjadi pelita dan pelindung diri sendiri, sehingga tidak menyandarkan nasibnya pada makhluk lain (D.ii.100).
Agama Buddha terbuka untuk semua orang. Sasaran pembabaran Dharma yang pertama adalah orang-orang tertentu, yang hanya memiliki sedikit debu dimatanya. Dharma sulit dimengerti, pelik dan tidak mudah diterima oleh individu yang terbelenggu sebagai budak nafsu. Buddha mengambil kebijaksanaan dengan memilih dan mendahulukan orang-orang yang tergolong siap, sehingga mampu menangkap ajaran-Nya dan berhasil meraih pencerahan dalam waktu singkat. Beliau tidak memulai pembabaran dihadapan siapa saja yang ditemui-Nya di jalan, membuat perencanaan untuk mengajarkan Dharma (Mukti, 2003:314).
Individu memiliki masalah sendiri dan masing-masing bisa berbeda pendapat. Buddha tidak mengabaikannya dan bisa bertanya: tentang pendapat atau pikiran siswa-Nya, berbagai dialog tersebut tercatat dalam kitab suci. Setiap individu berbeda kebutuhan dan keinginan, Buddha mempertimbangkan keunikan setiap orang. Merencanakan suatu pertolongan, termasuk dalam bidang pendidikan, memperhatikan pendapat dan keinginan individu yang akan ditolong atau dididik. Suatu perencanaan yang menyangkut kepentingan pihak lain memerlukan kesamaan pendapat dan sisi pandang. Peserta didik (siswa) harus tahu, ia ingin belajar atau diajar. Motivasi yang kuat akan memberi energi yang besar untuk melakukan kegiatan belajar. Suatu strategi pendidikan harus dimulai dengan memotivasi.
Buddha mengajarkan dengan penuh cinta kasih demi kesejahteraan semua makhluk. Beliau menunjukkan jalan kepada semua makhluk untuk membebaskan diri dari penderitaan. Para siswa mengikuti jalan yang telah ditunjukkan oleh-Nya, sehingga dapat terbebas dari penderitaan dan mencapai pembebasan. Pendidikan yang diberikan Buddha bertujuan untuk memperbaiki keadaan dan menyingkirkan segala bentuk penderitaan, dengan cara menghentikan segala bentuk kejahatan, melakukan berbagai kebajikan dan mensucikan pikiran dengan penuh semangat belajar, giat dan tekun tanpa mengenal lelah, akhirnya dapat mengubah keadaan hidup lebih baik dan terbebas dari penderitaan.
Tiga corak umum pendidikan dasar pembentukan watak jiwa kepribadian yang diberikan kepada anak-anak didik jaman kini, yaitu: kognitif (ilmu pengetahuan teknologi), afektif (sopan santun, budi pekerti kemanusiaan), dan normatif (kecerdasan intelek religius, keimanan) terasa tidak seimbang. Porsi waktu jam pelajaran kognitif lebih banyak daripada afektif, dan waktu jam pelajaran untuk normatif lebih sedikit. Akibatnya, banyak siswa menjadi cerdas secara intelek, tetapi kurang mempunyai peduli pada rasa kemanusiaan, rapuh dalam keimanan, kehilangan kelenturan jiwa, menjadi sangat egois, keras kepala, mudah tersinggung dan gemar tawuran (Dhammasubho, 2003:30-31).
Tiga corak umum kognitif, afektif, dan normatif, telah diletakkan Buddha sebagai dasar pembentukan watak jiwa kepribadian para siswa melalui dunia pendidikan sejak dua ribu lima ratus tahun lampau. Watak jiwa kepribadian dasar dibentuk dengan tiga corak umum pendidikan dasar, secara seimbang berhasil membentuk kepribadian siswa yang mempunyai kecerdasan intelek, memiliki sopan santun, tata krama, budi pekerti luhur dalam pergaulan, dan tetap memegang teguh jiwa keimanan. Manusia yang mempunyai keseimbangan tiga corak umum tersebut, mampu menghasilkan karya agung luar biasa.
Guru dalam mengajar dan mendidik dianjurkan Buddha hendaknya melalui tiga cara dan empat tahap. Tiga cara ajaran yaitu: dengan penuturan kata-kata lewat lisan, menggunakan bahasa simbol atau tulisan, dan memberikan contoh perbuatan. Empat cara membentuk watak jiwa kepribadian diawali dari memberikan pengertian tentang: estetika, etika, dogma, doktriner-imajiner. 1) Estetika (seni keindahan), mendidik dan mengajar kepada siswa tentang arti penting seni keindahan, seni berarti sentuhan nurani. 2) Etika (sopan santun pergaulan), melatih laku sopan hingga menjadi manusia berbudi pekerti luhur. 3) Dogma (menumbuhkan kedisiplinan), melatih watak disiplin hingga benar-benar mempunyai rasa tanggung jawab, mempunyai keteguhan iman kuat, tidak mudah goyah. 4) Doktriner-imajiner (kecerdasan intelek), menanamkan keseimbangan antara kebajikan dan iman, atau kebaikan hati dan kecerdasan otak (Dhammasubho, 2003:32).
3. Lingkungan
Kondisi belajar selain berhubungan dengan keadaan fisik dan psikis seseorang, juga dipengaruhi lingkungan. Faktor-faktor lingkungan perlu dipertimbangkan untuk melakukan kegiatan pendidikan tertentu. Lingkungan memiliki pengertian luas, yaitu lingkungan ekonomi (keluarga), lingkungan sosial (masyarakat), atau tempat terkait dengan situasi dan kondisi (sekolah). Seperti halnya orang yang melaksanakan latihan samadhi menghendaki pemilihan lingkungan yang tepat sesuai dengan carita atau watak dan subyek meditasi. Misalnya hutan adalah tempat yang menyenangkan, namun bukan yang disukai oleh kebanyakan orang. Disanalah mereka yang telah terbebas dari nafsu (arahat) berbahagia, karena mereka tidak lagi mengejar kenikmatan indria (Dh. 99).
a. Lingkungan Keluarga
Orang tua berperan menjadi guru yang mendidik dan mengajar anaknya. Ayah dan ibu dihormati dan dijunjung laksana Dewa Brahma, laksana guru bijaksana, yang patut mendapat persembahan (A.ii.69).
Orang tua dalam keluarga dengan penuh cinta kasih mendidik anaknya agar menghindari kejahatan dan menimbulkan kebaikan. Anak dilatih agar dapat bekerja sendiri dan memperoleh pasangan yang sesuai, sehingga pantas menjadi ahli waris dari orang tuanya. Anak yang mendapat pendidikan yang baik akan menunjang orang tuanya, berbakti, memelihara kehormatan keluarga, menjaga warisan dengan baik dan menghormati leluhur atau sanak keluarga yang meninggal dunia (D.i.189). Peran orang tua menjadi efektif melalui program pendidikan keluarga, dengan orang tua sebagai teman dan sumber belajar.
Buddha membedakan tiga macam anak, yaitu: 1) anak yang lebih baik disbanding orang tuanya, 2) anak yang sebanding dengan orang tuanya, 3) anak yang tidak sebaik orang tuanya (It.63). Melalui pendidikan orang tua menginginkan anak-anaknya lebih baik dan lebih maju dari mereka.
b. Lingkungan Masyarakat
Individu adalah pelindung bagi dirinya sendiri dan mempunyai arah tujuannya sendiri (Dh.380). Ia adalah milik dirinya sendiri dan menjadi tuan atas dirinya sendiri, menjadi dan mewujudkan dirinya sendiri, serta dapat menolong dirinya sendiri. Peserta didik (siswa) bukan obyek, yang tergantung pada gurunya. Peserta didik harus berusaha sendiri dan mampu mandiri. Ia adalah subyek yang aktif dan bertanggung jawab atas karma dan perbuatannya.
Menghargai individualitas tidak berati menerima individualisme yang bersifat egoistis. Buddha menolak keakuan dan egoisme (S.iii.21). Manusia merupakan makhluk sosial, yang tidak hidup sendiri. Bahkan dirinyapun bukan miliknya sendiri (Dh.62). setiap individu saling berinteraksi dan saling bergantungan. Seluruh fenomena di alam semesta saling mempengaruhi. Pikiran kita tidak dapat dipisahkan dari konsep satu dan yang banyak sebagai suatu kesatuan. Yang satu dengan yang lain saling bergantung karena adanya perbedaan.
Pendidikan sebagai proses menyingkirkan kebodohan dan mendewasakan diri menuju kesempurnaan. Dalam arti khusus pendidikan merupakan usaha yang disengaja dan terencana untuk menolong seseorang belajar bertanggung jawab, mengembangkan perilaku dirinya atau mengubah perilaku, sehingga bermanfaat bagi kepentingan individu dan masyarakat. Dengan memiliki pengetahuan, seseorang berusaha untuk melayani orang lain dan sebagai bekal dalam bekerja dengan baik (Mukti, 2003:304).
Siswa dalam perkembangan kehidupannya mengalami banyak perubahan. Adanya kemampuan untuk selalu belajar dimulai sejak ia lahir sampai mencapai umur tua dan akhirnya meninggal dunia. Rangkaian perubahan pada anak sampai mencapai umur dewasa, misalnya anak kecil belajar berjalan, berbicara, memulai untuk berbicara dan menulis, mengambil sikap menghormati orang tua dan bergaul dengan teman-temannya sejenis atau lawan jenis secara dewasa.
Perubahan yang dialami anak kecil, dewasa dan orang tua merupakan hasil proses belajar. Misalnya perubahan dalam pertumbuhan dan perkembangan tubuh, rongga kepala, dan rongga dada, hal ini berlangsung dengan sendirinya., disertai perawatan yang memadai. Kemasakan alat kelamin pada masa puber, tidak merupakan hasil dari belajar. Kenyataan dari perubahan yang nampak adalah proses belajar di berbagai bidang.
Perubahan yang diharapkan adalah bentuk perubahan positif, yaitu perubahan yang mengarah kepada taraf kedewasaan. Pendidikan akan memberikan makna dalam perubahan sikap atau tingkah laku yang dipandang bercorak negatif. Misalnya siswa sekolah dasar dapat berbuat melakukan penganiayaan binatang demi kesenangannya. Siswa remaja dapat belajar mengambil sikap toleran terhadap agama yang lain dari agamanya sendiri. Sikap umum ini sulit diterima sebagai hasil belajar yang positif dan akan menimbulkan kesukaran dalam kehidupan bermasyarakat.
Masyarakat menganggap mutlak dan perlu mendampingi anak dalam belajar di berbagai aspek kehidupan. Sehingga tampak perubahan-perubahan yang membuat anak menjadi dewasa, sesuai dengan norma-norma hidup dalam masyarakat. Lingkungan pendidikan (paedagogik) yang bertugas mendidik siswa dan mengarahkan semua pengalaman belajarnya, sehingga proses perkembangan berlangsung sebagaimana mestinya.
c. Lingkungan Sekolah
Sekolah menyelenggarakan suatu program pendidikan yang tertuang dalam kurikulum pengajaran melalui proses belajar-mengajar, kurikulum dan ekstrakurikuler. Walaupun dalam kegiatan dan programnya berbentuk program dan kegiatan yang ada di dalam pendidikan sekolah. Semua itu berpusat pada aktifitas belajar siswa. Belajar inilah yang perlu direncanakan, dituntun dan dievaluasi hasilnya.
Pendidikan di sekolah perlu suatu pemahaman, penanganan serius, arti pentingnya belajar, mengetahui fakta-fakta yang berperan di dalam belajar, menguasai cara-cara mengatur proses belajar dengan baik. Makin luas pendalaman pengetahuan pendidikan di sekolah, belajar selain dari keberhasilan tugas sebagai pendidik (guru), belajar di sekolah adalah belajar bertujuan, berbentuk manusia yang mampu dan suka berprestasi dalam pengelolaan pendidikan.
Pendidikan yang ditekankan dalam universitas Buddhis (Monastic Universities) pada jaman dulu tidak eksklusif bercorak Buddhis atau keviharaan saja. Pelajaran non-Buddhis dan kesusasteraan sekuler mendapatkan tempat yang sama dalam kurikulum universitas. Empat tipe pendidikan yang dilaksanakan yaitu: (i) pendidikan spiritual, (ii) pendidikan moral, (iii) pendidikan yang berhubungan literatur, (iv) pendidikan ketrampilan (Indaratano, 2003:102-103).
Pendidikan spiritual ditekankan ajaran-ajaran, instruksi ajaran Buddha, ajaran filsafat Buddhis, dan dasar-dasar perkembangan batin. Praktek yoga, pencapaian jhana, studi kitab suci dalam pendidikan spiritual merupakan cara praktis untuk merealisasikan kebenaran. Pendidikan moral menduduki tempat penting. Peraturan moral dan cara bertingkah laku diajarkan melalui contoh praktis; di Vihara, para siswa belajar perturan kebersihan, kerapian, makanan yang sesuai, etiket dalam menghormat, rasa hormat terhadap segala bentuk kehidupan, mematuhi dan menghormati yang lebih tua, mempraktekkan Pancasila Buddhis pertama diajarakan.
Pendidikan yang berhubungan dengan literatur atau kepustakaan merupakan hal penting. Pendidikan keviharaan dan kepustakaan telah berkembang dengan baik, membaca dan menulis, belajar buku-buku vinaya, khususnya Patimokha dan pengetahuan umum dari Tipitaka serta tata bahasa menduduki tempat yang utama. Pendidikan teknik khusus yang berkenaan dengan seni Buddhis-arsitektur, seni pahat, dan lukisan menjadi bagian dari pendidikan. Sebuah prasasti yang ditemukan di Nalanda menjabarkan para Bhikkhu dari Mahavira dalam kitab suci dan bidang kesusasteraan.

D. PELAKSANAAN KEWAJIBAN GURU TERHADAP SISWA MENURUT KAJIAN BUDDHIS

1. Melatih Siswa Dengan Baik
Buddha membedakan tingkat perkembangan manusia dalam 4 (empat) golongan (A.ii.135). 1) jenius (Ugghatitannu), diumpamakan sebagai bunga teratai yang telah muncul di atas permukaan air dan pasti akan mekar. 2) intelektual (Vipancitannu), seperti bunga teratai yang segera akan muncul di atas permukaan air. 3) orang yang dapat dilatih (Neyyo), bagaikan bunga teratai yang agak jauh di dalam air, sehingga perlu waktu yang cukup lama untuk muncul di atas permukaan air. 4) orang yang gagal dilatih (padaparamo), menyerupai bunga teratai yang tidak sempat muncul di atas permukaan air (Mukti, 2003:310).
Seorang siswa bisa menunjukkan kepandaian melampaui teman-teman seusianya melalui keunikan dan tingkat perkembangan individual. Usia terlalu muda tidak menjadi penghalang untuk menempuh dan menyelesaikan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Siswa berbakat dan berprestasi mendapat perlakuan khusus untuk mewujudkan dirinya secara optimal. Pengakuan terhadap anak jenius dalam hal kearifan. Buddha menyatakan seseorang dituakan bukan karena usia, tetapi karena kebijaksanaannya (A.ii.22). Siswa yang lemah dan tertinggal memerlukan perhatian khusus, sesuai dengan kebutuhannya.
“Barang siapa tidak mendengar atau belajar, ia akan menjadi tua seperti sapi. Perutnya makin membuncit, tetapi kepandaiannya tidak berkembang. Sebaliknya barang siapa telah banyak mendengar dan belajar, lalu memandang rendah dia yang tertinggal dalam pendidikan, bagaikan orang buta yang memegang lampu, begitu aku menilai orang seperti itu, “demikian dikatakan oleh Ananda (Thag. 1025-1026).
Pendekatan dalam pendidikan beragam karena setiap siswa unik memperhatikan potensi atau kapasitas, kebutuhan, sifat dan minat peserta didik. Setiap siswa diterima dengan kelebihan atau kekuatannya dan kekurangan atau kelemahannya. Pendidikan diberi secara sistematis dengan langkah bertahap. Kegiatan dimulai dengan sasaran-sasaran yang mudah dicapai, akan memberi pengalaman berhasil yang mendorong langkah-langkah berikutnya. Ganaka-Mogallana bertanya kepada Buddha mengenai latihan yang bertahap, dibandingkan dengan siswa diajar menghitung satu-satu, dua-dua, tiga-tiga, hingga sepuluh lalu seratus. Buddha menjelaskan bagaimana ajaran-Nya secara bertahap dan sistematis dapat dipelajari dan dilaksanakan, mulai dari peraturan, mengendalikan indera, hingga mengembangkan konsentrasi dan mencapai jhana (M.i.1-2).
Keterampilan dalam cara pendekatan dinamakan upaya-kausalya. Secara harfiah kata upaya kausalya berarti “cara untuk mencapai hal yang harus dicapai.” Meliputi berbagai cara atau instrumen yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan, yaitu kebebasan. Istilah ini diartikan sebagai “kepandaian atau keterampilan untuk membuat yang lain mencapai tujuan.” Keterampilan dengan cara ini merupakan bentuk kesempurnaan dari sepuluh kesempurnaan (dasa-paramita) seorang Boddhisattva yang penuh dengan cinta kasih (maitri) dan kasih sayang (karuna).
Kasus Bhikkhu Cula Panthaka merupakan contoh bagaimana pendekatan individual memperhatikan keunikan seseorang yang memerlukan keterampilan dalam cara mendidik. Bhikkhu yang tidak pandai menghafal ini diajar oleh Buddha untuk duduk dibawah terik matahari, menggosok kain putih yang bersih, mengamati dengan mengucapkan “Bersih dari kekotoran”. Melihat proses kain menjadi kotor terkena keringat tangannya, seketika ia sampai pada pemahaman induksi kausalitas dan ketidakkekalan (DhA.25). Peristiwa ini mirip dengan Newton yang mengamati apelnya atau Archimedes yang mengamati air bak mandinya. Belajar tidak hanya untuk mengetahui atau mengingat (pariyatti) tetapi untuk melaksanakan (patipatti) dan mencapai penembusan (pativeda).
“Meskipun seseorang banyak membaca kitab suci, tetapi tidak berbuat sesuai dengan ajaran orang yang lengah itu sama seperti gembala yang menghitung sapi milik orang lain, ia tidak akan memperoleh manfaat kehidupan suci.” (Dh.19). Pengetahuan saja tidak akan membuat orang terbebas dari penderitaan, tetapi ia harus melaksanakannya (Sn.789).

Menjinakkan dan melatih gajah liar yang baru lebih mudah dengan bantuan gajah lain yang sudah jinak dan terlatih. Gajah liar diikat dilatih bagaimana seharusnya mengatur laku supaya diterima oleh lingkungan yang baru (M.iii.132). Gajah yang dibesarkan di tengah rombongan sirkus tidak bisa lain dari gajah sirkus. Kebiasaan itu ditularkan. Untuk mendapatkan individu pandai, Buddha menganjurkan agar bergaul dengan orang yang pandai. Karena itu mendapatkan orang yang pandai, bijaksana, terpelajar, tekun, patuh dan mulia, hendaknya ia selalu mengikuti individu seperti itu bagai bulan mengikuti peredaran bintang” (Dh.208).
Pendidikan mencakup proses pendisiplinan. Disiplin tampak dari ketaatan pada suatu sistem nilai yang terkait dengan hak dan kewajiban. Sigala yunior yang memenuhi pesan ayahnya almarhum dengan melaksanakan upacara dini hari mendapat petunjuk dari Buddha mengenai makna simbolis dari upacara tersebut. Menyembah keenam arah adalah menjunjung hak dan kewajiban seorang umat dalam keluarga dan masyarakat. Untuk memelihara hak dan kewajiban dituntut adanya disiplin moral (D.i.181).
Disiplin dalam pendidikan menghendaki seorang siswa mengikuti ajaran dan tata tertib atau peraturan dari gurunya. Disiplin merupakan kebutuhan seseorang, untuk menjaga kepentingannya sendiri; seperti dalam hal menjaga kebersihan, mengatur pola makan, penting untuk mencegah penyakit. Disiplin untuk mengembangkan diri secara maksimal, misalnya meraih suatu prestasi intelektual, seni olah raga. “Dengan usaha yang tekun, semangat, dan pengendalian diri, orang bijaksana membuat pulau bagi dirinya sendiri, yang tak dapat ditenggelamkan oleh banjir” (Dh.25).
Disiplin memelihara kepentingan masyarakat dan menjaga keharmonisan hubungan antar manusia atau hubungan dengan lingkungannya. Melindungi dan mengendalikan mereka yang berkelakuan baik, disiplin yang ditetapkan dalam vinaya, memberi manfaat bagi semua makhluk, memelihara persaudaraan dan kebahagiaan (A.v.70). Disiplin mematuhi moralitas dan mengendalikan indera.
Penegakkan disiplin menghendaki setiap individu memahami mengapa suatu nilai dianut, apa yang menjadi alasan dan tujuan dari suatu norma atau peraturan. Pemahaman benar, tidak bertentangan dengan hati nurani. Menerima alasan dan bentuk tingkah laku yang baik, menghindar dari yang tidak baik. Dalam prakteknya disiplin bukan ketaatan membuta pada suatu ketentuan. Misalnya ketaatan pada perintah guru bisa tidak berlaku bilamana disalahgunakan; seperti ketaatan pada lalu lintas hanya berlaku bila lampu tidak rusak.
Disiplin dilaksanakan pada dasarnya untuk menguasai atau menaklukkan diri sendiri. “Sesungguhnya menaklukkan diri sendiri lebih baik daripada menaklukkan orang lain; orang yang telah menaklukkan diri sendiri selalu hidup terkendali. Tidak seorang Dewa, Gandarwa, Mara dan Brahma yang dapat mengubah kemenangan dari orang yang telah menaklukkan dirinya sendiri” (Dh.104-105).
Pengetahuan benar dimiliki akan mendorong diri sendiri untuk melaksanakan disiplin, demi mencapai tujuan bersedia mengendalikan diri dan menanggung penderitaan. Individu menghargai nilai dan mematuhi suatu norma yang hanya karena disuruh, dilarang, diancam atau ditakut-takuti. Kepatuhan pada disiplin dan moralitas berhubungan dengan adanya tahu malu (hiri) dan takut akibat perbuatan salah (ottapa). Hal ini dinamakan sebagai Dharma pelindung dunia (It.36).
Hiri tumbuh dari hati nurani dalam diri seseorang (attadhipati), ottapa datang dari menghadapi dunia luar (lokadhipati). Hiri dipengaruhi oleh harga diri, kesan mendalam dari perlakuan masyarakat, teguran hukuman dan penderitaan yang dialami atau dibayangkan oleh seseorang. Pengaruh ini menunjukkan bahwa budaya tahu malu dan takut melakukan kejahatan dapat dikembangkan oleh masyarakat.
Nilai-nilai pendidikan Buddhis perlu diterapkan dalam penanaman disiplin anak didik. Anak didik tidak dibuat takut dan frustasi, tetapi ditanamkan budaya tahu malu dan takut akibat dari perbuatan salah. Hal ini dapat diterapkan pada pendidikan budi pekerti. Pendidikan budi pekerti dilaksanakan sebagai suatu sistem yang tidak memerlukan waktu khusus untuk pembelajaran. Pendidikan budi pekerti sebagai substansi pengetahuan diberikan terintegrasi dalam mata pelajaran relevan. Dengan terintegrasi pada setiap mata pelajaran, maka setiap guru mata pelajaran ikut berperan menanamkan nilai budi pekerti dan mendisiplinkan siswa (Hariyanto, 2003:35).
Penguatan diberikan kepada individu yang bersedia menjalankan disiplin dengan cara berjanji. Janji dapat diucapkan, seperti umat membaca Pancasila dalam setiap upacara keagamaan. Janji bisa tertulis, dengan mengingat janjinya individu belajar melatih diri untuk selalu sadar dan waspada. “Kewaspadaan merupakan jalan menuju kekekalan. Kelengahan merupakan jalan menuju kematian. Orang yang waspada tidak akan mati, dan orang yang lengah seperti orang yang sudah mati” (Dh.21).
Petunjuk mengenai perenungan yang membantu pencari kebenaran, yaitu empat landasan tingkah laku (apassena), dapat dipertimbangkan untuk memelihara disiplin. Praktek ini menjaga seseorang dari kesukaran dan penderitaan, mengembangkan kekuatan dan kesucian. Keempat landasan itu adalah: 1) Dengan sengaja mengikuti sesuatu yang sudah dipertimbangkan baik dan menjadikannya sebagai kebiasaan., 2) bertahan dengan sabar dan penuh pengertian memikul apa yang harus ditanggung agar berhasil memperoleh faedahnya, 3) menghindar agar tidak menjadi mangsa berbagai godaan yang menjatuhkan, 4) menekan atau menyingkirkan pikiran yang menyesatkan (A.i.354). Keberhasilan dalam kehidupan ini dapat dicapai jika ada disiplin diri, menyadari dirinya sendiri, menjalani sila, berbuat kebaikan, menolong, mengembangkan cinta kasih dan bermeditasi adalah sikap yang nyata dalam menghadapi kehidupan ini dengan baik dan bijaksana.
Individu yang memiliki pengertian benar akan dapat menuntun dirinya sendiri menuju satu bentuk pendisiplinan diri, demi mencapai tujuan yaitu mengendalikan diri bukan menanggung penderitaan. Setiap individu ada kesempatan kebebasan untuk memimpin, mengendalikan dirinya sendiri. Mereka merupakan suatu proses belajar dalam mengatasi masalah, dan meningkatkan kualitas dirinya, bertanggung jawab dan menempatkan dirinya sesuai dengan etika atau norma yang berlaku sehingga memberikan manfaat baginya dan sekelilingnya.
Buddha menyatakan, individu yang menerima ajaran, akan memperoleh lima hal yang sangat bermanfaat dalam hidupnya yaitu: (1) akan dapat memahami maksud dan tujuan, mampu menjelaskan secara rinci dan mempertimbangkan akibatnya, 2) mengerti intinya, mampu meringkas, dan meneliti sebab dan akibatnya, 3) cakap dalam memilih kata dan mengerti, 4) memperoleh kelancaran dalam cara penerapan atau penyesuaian, 5) mampu menguasai masalah yang muncul (A.ii.160).
2. Mengajar Siswa Hingga Mahir
Belajar merupakan proses intelektual, emosional, spritual dan sosial. Keseimbangan dan keserasian keempat aspek perlu dikembangkan dalam ranah kognitif (pemikiran), afektif (perasaan, sikap dan nilai) dan psikomotorik (ketrampilan), yaitu kecerdasan intelektual dan emosional, dari sudut pandang agama yaitu kecerdasan spritual. Buddha melihat bahwa “segala keadaan batin didahului oleh pikiran, dipimpin oleh pikiran, dan dibentuk oleh pikiran” (Dh.1). Seseorang melakukan perbuatan setelah timbul kehendak (cetana) dalam batinnya (A.iii.415), kunci belajar adalah kehendak mengendalikan, melatih, mengembangkan dan menggunakan pikiran. Ada keyakinan tentang perlunya berubah sehingga bertekad dan berbuat.
Belajar merupakan penemuan diri sendiri. Ketika menghadapi sekelompok pemuda Bhaddavaggiya yang mencari wanita penghibur yang telah menipu mereka, Buddha menanyakan tentang apa perlunya dengan seorang perempuan dan mana yang lebih baik, menemukan perempuan itu atau menemukan diri sendiri. Mereka sepakat bahwa menemukan diri sendiri yang lebih baik (Vin.i.23). Individu atau kelompok belajar menentukan yang relevan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan yang akan dicapai, sehingga dimungkinkan untuk menemukan dan mewujudkan pribadinya sendiri. Individu belajar memerlukan motivasi untuk mengembangkan konsep diri yang positif.
Belajar merupakan proses evolusi, karena perubahan perilaku memerlukan waktu, kesabaran dan ketekunan. Buddha bersabda, “Aku tidak mengatakan bahwa pencapaian pengetahuan yang mendalam datang dengan segera; sebaliknya, datang melalui latihan yang bertahap, suatu pelaksanaan yang bertahap, suatu pelajaran yang bertahap” (M.i.479). Kemajuan bertahap ini dilukiskan bagai lautan luas yang sedikit demi sedikit menjadi semakin dalam (Ud.54). Jika diibaratkan sebagai petani yang harus bekerja dengan sebaik-baiknya, mengolah tanah, menabur benih, menyiram dan sebagainya, tanaman tentu memerlukan waktu untuk bersemi, tumbuh bertahap hingga akhirnya berubah (A.i.229).
Kegiatan belajar-mengajar dapat berlangsung dengan baik, maka harus ada persiapan. Kesiapan mengajar dan kegiatan belajar sama penting. Bagaimana mempersiapkan seseorang untuk belajar, ditunjukkan Buddha, dengan memberi makan orang yang lapar sebelum ia menyampaikan khotbah-Nya (DhA.203).
Strategi pendekatan dalam pendidikan mengacu pada pembicaraan Buddha dengan Kesi, dibedakan atas: (1) Pendekatan halus atau positif: menunjukkan apa yang baik dan hasilnya menimbulkan kesenangan atau keuntungan, (2) pendekatan keras atau negatif: menunjukkan apa yang tidak baik dan hasilnya menimbulkan penderitaan atau kesusahan, (3) Gabungan pendekatan keras dan halus (Mukti, 2003:317). Peserta didik tidak kehilangan kebebasan, tetapi memahami konsekuensi yang akan dihadapi atas pilihannya. Gagal dengan ketiga bentuk pendekatan, akhirnya siswa tidak dipedulikan atau dimasa bodohkan sama artinya dengan dibunuh (A.ii.3).
Pendekatan halus ditemukan pada ajaran tentang perbuatan yang baik, jenis-jenis perbuatan yang menghasilkan kelahiran kembali dialam surga. Guru mengajarkan meditasi dan hasilnya mencapai tingkatan-tingkatan jhana, tingkat kesucian dan ciri-cirinya, memakai pendekatan halus atau intervensi berupa fasilitasi. Fasilitasi bersifat informative dan tujuan pencapaian ditetapkan sendiri oleh siswa. Buddha sering menempatkan diri sebagai fasilitator, seperti dalam kasus Kisa Gotami yang diminta mencari segenggam biji lada dari rumah orang yang tidak pernah mendapat kematian, untuk menghidupkan anaknya yang sudah mati (DhA.114).
Pendekatan halus lain adalah persuasi, bersifat mengajak melalui argumentasi atau diskusi, dengan memberikan alasan dan prospek baik yang meyakinkan. Mendorong umat berdana, mempertahankan kerukunan, menghormati orang tua. Cara persuasi dipergunakan ketika menuntun Ambattha untuk menyadari bahwa tidak benar martabat manusia ditentukan oleh kelahiran atau kastanya (D.i.92-100). Menyadarkan Visakha, semakin banyak memiliki anak dan cucu akan semakin sering berduka menghadapi kematian mereka yang masih dicintainya (Ud.91-99).
Kasus Bhikkhu Nanda yang bosan menjadi Bhikkhu, sehingga Buddha memperlihatkan lima ratus bidadari kepadanya (DhA.13-14), ditemukan cara persuasi sekaligus manipulasi. Yang dimaksud manipulasi bukan kecurangan atau dusta yang merugikan seseorang. Manipulasi adalah upaya untuk mempengaruhi perilaku, sikap dan pendapat orang lain tanpa sepengetahuan atau disadari oleh orang tersebut. Praktik mengumpulkan dana melalui penyelenggaraan ritual, menggunakan kegiatan bermain untuk mengajar, mengandung unsur manipulasi.
Pendekatan keras ditemukan pada ajaran tentang perbuatan yang buruk menghasilkan akibat buruk, dan kelahiran di alam-alam binatang ataupun neraka. Berlawanan dengan penghargaan atau hadiah pada pendekatan halus, pendekatan keras berupa hukuman. Penggunaan hukuman atau sanksi pada suatu peraturan atau hukum merupakan tekanan yang membuat orang tidak ingin melanggarnya. Koersi, bersifat memaksa yang berinteraksi, apakah instruksi, hukum atau kontrak, selalu diikuti sanksi. Individu yang berinteraksi tidak kehilangan kebebasan untuk menentukan pilihan. Dengan memiliki kebebasan setiap manusia bertanggungjawab.
Menurut Buddha, individu yang menerima ajaran akan memperoleh manfaat dalam lima hal, yaitu: 1) Ia mengetahui sesuatu yang baru, yang belum pernah Ia ketahui sebelumnya, 2) Ia memahami lebih jelas apa yang pernah diketahui sebelumnya yang berarti pula Ia menyingkirkan pikirannya yang salah, 3) Ia menghalau keragu-raguan, 4) Ia meluruskan pemahamannya, 5) Hatinya menjadi tenteram (A.iii.248).
Keberhasilan mengajar dan latihan ditandai dengan pemahaman dan kecakapan (Patisambhida) dalam hal: 1. Memahami maksud dan tujuan, mampu menjelaskan atau menjabarkan secara rinci dan mampu mempertimbangkan akibat, 2. Memahami intisari atau mampu meringkas, dan meneliti atau menunjukkan penyebab, 3. Cakap memilih kata atau menggunakan bahasa yang tepat, yang mudah dimengerti dengan benar, 4. kelancaran dalam cara penerapan atau penyesuaian dan dengan bijaksana mampu menguasai persoalan yang timbul mendadak (A.ii.160).
Pendidikan apapun bentuk dan tingkatannya menuju pada suatu perubahan, yaitu peningkatan kemampuan di bidang pengetahuan, sikap dan ketrampilan. Untuk mengevaluasi perubahan, menentukan taraf yang telah tercapai diperlukan informasi-informasi yang diperoleh dari pengukuran. Pengukuran diperoleh melalui pengamatan dan ujian atau tes. Tes dapat dilakukan pada setiap tahapan sebelum dan sesudah suatu proses.
Tes merupakan pertanyaan, soal atau tugas yang diberikan untuk dijawab atau diselesaikan. Tes bisa lesan atau tertulis. Materi yang diujikan teori dan praktek. Buddha bisa membaca kemajuan batin seseorang, Beliau menguji siswa-Nya dengan mengajukan pertanyaan dan mengamati praktek mereka. “Banyak belajar dan ujian membuahkan kemampuan belajar” (A.v.136).
Sariputta berpendapat Ia bertanya dengan tujuan meluruskan individu yang menjawabnya keliru. Seseorang pantas bertanya kepada orang lain yang meragukan, dengan pikiran: Jika pertanyaanku dijawab tepat, itulah baik. Tetapi jika pertanyaanku dijawab tidak benar, aku akan menjelaskan kepadanya. Individu mencari pengetahuan bertanya, individu yang bodoh dan buta perlu bertanya. Bertanya dilakukan dengan maksud lain, yaitu dengan niat iri hati, atau orang berniat merendahkan dan menjatuhkan orang lain (A.iii.190). Pertanyaan sebagai tes harus sahih mengukur apa yang memang diujikan. Buddha memberi petunjuk, adanya empat pola pertanyaan dan cara menjawabnya. Yaitu pertanyaan yang perlu dijawab dengan jawaban langsung secara pasti; yang perlu dijawab dengan suatu pertanyaan balik; yang perlu dijawab dengan tanpa jawaban; dan terdapat pertanyaan yang perlu dijawab dengan suatu uraian (A.ii.46).
Ajaran Ehipassiko artinya kita datang, melihat, dan membuktikannya (A.iii.285). Ajaran Buddha adalah suatu ajaran untuk dibuktikan, bukan kepercayaan yang membuta. Setindak demi setindak dalam perjalanan hidupnya di atas jalan yang ditunjukkan oleh Buddha Gotama yang akan membawanya kepada kebenaran sejati yang tidak dapat disangkal lagi (Kittiphalo, 2003:49). Paccatam Veditabbo (realisasi sendiri dengan bebas). Sejak semula agama Buddha telah menyebutnya senagai Vibhajjavada mengajar-belajar. Fakta yang membantu dalam pengembangan pengajaran, belajar riset adalah liberalisme intelektual yang digariskan oleh Buddha, Buddha menganjurkan agar jangan percaya dan menerima begitu saja, tetapi suatu ajaran harus dianalisa secara cermat kebenarannya, baru ajaran itu diterima seperti dibabarkan dalam Kalama Sutta.
Pendidikan memberi tempat yang seluas-luasnya pada pengujian, pemahaman rasional, dan pengalaman empiris. Pada prakteknya orientasi pendidikan terletak pada proses, suatu proses pada dasarnya merupakan rangkaian sebab dan akibat, melihat Dhamma (M.i.191).
Guru Pembimbing sebagimana yang dimiliki Buddha perlu memiliki sikap yang fleksibel dalam menghadapi siswanya, agar dapat memberikan petunjuk dan pengertian mengenai situasi siswanya. Sehingga siswa dapat dan berani mengungkapkan perasaan yang dialami karena ada rasa keterimaan dan keterbukaan Sang Guru. Dalam hal ini perlu diperhatikan cara Buddha menghadapi siswanya, yaitu:
(1) Buddha mengajar agar mereka yang mendengar dapat mengetahui secara mendalam dan melihat dengan benar apa yang pantas untuk diketahui dan dilihat, (2) Beliau mengajar dengan alasan-alasan sehingga mereka yang mendengar dapat merenungkan (dhamma) dan melihatnya dengan benar (bagi dirinya sendiri), (3) Beliau mengajar dengan suatu cara yang luar biasa, sehingga mereka yang mengikuti ajarannya dapat memperoleh faedah-faedah sesuai dengan praktek mereka (A.i.276).

Guru memiliki sikap keterbukaan dan penerimaan dalam menghadapi siswanya sehingga siswa berani dan mampu menyatakan permasalahannya. Sikap ini dimiliki Buddha dalam menghadapi berbagai macam warna dan karakter siswa-siswanya. Yang penting adalah mendengar mereka dan bukan menyatakan apa yang seharusnya kita nyatakan. Sebab sumber permasalahan ada dalam diri mereka, jalan dan penyelesaiannya ada dalam diri mereka. Ketika sedang berjalan atau berdiri, ketika sedang duduk atau berbaring orang yang mengatasi pemikiran ini menemukan kegembiraan dalam ketenangan pikiran, Bhikkhu seperti itu akan dapat mencapai pencerahan atau tujuan tertinggi (A.iv.11).
3. Memperdalam Pengetahuan Siswa Dalam Ilmu Dan Seni
Proses belajar merupakan suatu aktifitas psikis atau mental yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan, nilai dan sikap. Perubahan tersebut relatif konstan dan terbatas. Perumusan berlaku bagi segala macam kegiatan belajar dan tidak pada satu bentuk belajar tertentu. Misalnya belajar ketrampilan motorik. Setiap kegiatan belajar akan menghasilkan suatu perubahan pada siswa.
Kemajuan dalam belajar membutuhkan pengorbanan. “Apabila dengan melepas kebahagiaan yang sedikit seseorang dapat melihat kebahagiaan yang berlimpah. Biarlah orang bijak melepas kebahagiaan yang berlimpah tersebut” (Dh.290). Penjelasan proses dan prinsip belajar terjadi bila siswa mengikuti proses belajar-mengajar di sekolah, membutuhkan analisa psikologis terhadap gejala-gejala belajar dan digunakan langkah-langkah instruksi yang dilakukan oleh guru sebagai pengelola proses belajar-mengajar.
Penyampaian ajaran dilakukan dengan pendekatan individu atau kelompok. Ceramah diberikan secara sistematis. Penyampaian materi dapat diberikan urutan nomor agar mudah diingat, dikelompokkan menurut tema dan berdasar jumlah butir uraian yang ditemukan dalam kitab suci Anguttara Nikaya. Buddha sering mengulang khotbah-Nya yang penting pada berbagai kesempatan. “Sering mengulang pelajaran membuahkan pengetahuan yang mendalam” (A.v.136). Selain analisis diskriptif Buddha banyak menyampaikan ajaran dalam bentuk cerita dan syair. Pengungkapan konsep menghadapi keterbatasan kata-kata, yang dipentingkan menangkap maknanya. Selain memakai sinonim berbagai perumpamaan, contoh-contoh visualisasi atau peragaan dipergunakan untuk memberi penjelasan. Buddha juga mengijinkan individu mempelajari ajaran-Nya untuk menggunakan bahasa masing-masing (Vin.ii.139).
Kesimpulan singkat dan jelas dibuat di akhir pembahasan. Teknik-teknik semacam ini memudahkan umat untuk memahami dan menghafal apa yang telah diajarkan, teori harus didukung oleh praktik atau latihan. Komunikasi yang baik akan membawa keberhasilan dalam proses belajar-mengajar, perlu dilakukan tanya jawab dan dialog secara aktif. Diskusi dan debat merupakan cara yang efektif sepanjang tidak menghabiskan aspek manfaat. Buddha Gotama ahli dialog dan dialektika selalu membuat orang-orang tunduk disaat berdebat. Buddha mengatasi segala perbedaan dan pertentangan pandangan manusia. Buddha bebas dari perasaan sentimental di satu pihak dan di pihak lain tidak bersikap masa bodoh.
Pengertian benar diperoleh, diperlukan kesaksian dari orang lain dan pengamatan atau perenungan sendiri yang setepat-tepatnya secara bijaksana (M.i.294). Sikap subyektif seperti suka atau tidak suka (Sn.781), kecenderungan karena keinginan yang mengikat, kebencian, kegelapan batin, dan ketakutan (A.ii.18). Merintangi seseorang untuk memahami kebenaran apa adanya.
Buddha memberi kesempatan bagi mereka yang mengemukakan opini. “Para Bhikkhu, aku mengijinkan, bilamana terdapat empat atau lima orang yang menyanggah, terdapat dua atau tiga orang mengutarakan pendapat. Bila hanya seorang yang mengambil keputusan, aku tidak berkenan” (Vin.i.115). Semangat ini dapat ditemukan dalam berbagai metode diskusi, seperti seminar, symposium, dan lokakarya. Kegiatan kelompok akan berhasil jika semua peserta berperan secara aktif dan bermakna.
Pengetahuan manusia merupakan segala sesuatu yang dijangkau oleh mata dan bentuk materi, telinga dan bunyi, hidung dan bau, lidah dan rasa, badan dan obyek-obyek sentuhan, pikiran dan obyek mental (S.iv.15)., Berbagai media audio visual atau multi media sangat menolong, untuk mendapatkan persepsi lewat indera yang sebaik-baiknya. Suasana lingkungan belajar memberi pengaruh cukup besar.
Buddha banyak mengajarkan bidang ilmu, mengenai alam semesta, geologi, biologi, psikologi, politik, sosiologi, ekonomi, kesejahteraan, kebudayaan,lingkungan hidup. Pengajaran yang dilakukan oleh Buddha lebih menekankan pada pengembangan mental atau pikiran dan proses pendidikan bertujuan untuk mengikis kebodohan yang merupakan akar penyebab penderitaan (Dhammavaddhana, 2003:13).
Ide tentang kombinasi antara seni dan pengetahuan. Seni merupakan sebuah unsur yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia dalam mencari jati diri. Contoh tentang proses pencapaian penerangan sempurna Pangeran Siddharta. Ekspresi seorang penyanyi ronggeng yang diungkapkan dengan alunan suara dan sitarnya telah mengekspresikan Pangeran dalam usaha memberi terang dan suka cita bagi kemanusiaan. Seni yang dibina secara baik terbukti merupakan jalur baik mengurangi stress, dapat menjadi produktif bila ditekuni secara profesional. Dengan kombinasi ini usaha memperoleh pengetahuan dapat menjadi lebih atraktif dan dapat menghambat dampak negatif dari stress (Prajnavira, 2003:21-22).
Buddha menganjurkan agar siswanya dapat memiliki banyak pengetahuan disertai keahlian, seseorang yang memiliki banyak pengetahuan dan ketrampilan akan dapat hidup dan merupakan suatu kekayaan yang tidak dapat di curi oleh orang lain. Pengetahuan dan ketrampilan dapat diperoleh seseorang sejak kecil dilingkungan keluarga, masyarakat melalui adat-istiadat dan budaya, semua merupakan kategori pendidikan informal. Dapat disimpulkan bahwa dalam Buddhisme sangat penting untuk memiliki pengetahuan luas, yang secara otomatis kita lakukan dengan cara belajar. Ajaran Buddha memperkenalkan motivasi dalam belajar yang dibedakan menjadi 3 (tiga) macam yaitu: 1. Alagaddupama-pariyatti, 2. Nittaharana-pariyatti, 3. Bhandagarika-pariyatti (Kittiphalo, 2003:50).
Alagaddupama-pariyatti merupakan belajar dhamma semata-mata untuk mencari bahan dalam bersilat lidah, berdalih, berdebat kusir, berolok-olok, mengumpulkan harta benda, mencari kedudukan, kehormatan, ketenaran, popularitas, dan sebagainya. Cara ini tidak akan mendapatkan manfaat kemajuan pesat dalam Dhamma, artinya tidak mampu memahami serta menembus makna sejati yang terkandung di dalam ajaran yang dipelajari, mempunyai motivasi belajar yang tidak benar, tidak baik atau tidak tepat.
Nittaharana-pariyatti merupakan belajar dhamma untuk meraih pembebasan dari daur samsara (lingkaran kelahiran dan kematian yang berulang-ulang) cepat atau lambat meraih manfaat sebagaimana yang diharapkan. Terbebas dari penderitaan dan menikmati kebahagiaan.
Bhandagarika-pariyatti merupakan belajar dhamma semata-mata untuk membendaharakan (melestarikan dan menyimpan) ajaran-ajaran murni yang telah di sampaikan Buddha agar tidak mengalami kepudaran, hilang atau lenyap. Memiliki motivasi belajar dapat dikatakan andil dan berperan penting dalam mempertahankan eksistensi Agama Buddha, umat manusia pada generasi belakang yang masih memliki peluang dan kesempatan untuk mempelajari serta melaksanakan ajaran dari sang Buddha demi kesejahteraan dan kebahagiaan yang sejati (Jansanjivaputta, 1991:VII-10).
Kata pengetahuan dalam bahasa inggris dituliskan knowledge, dalam bahasa sansekerta diterjemahkan jina’na yang berasal dari kata juna dari bahasa sansekerta vedic (Sugiarto, 2003:63). Memiliki pengetahuan luas (Bahusacca) yang muncul dalam banyak sutta adalah bahusutta artinya banyak mendengar. Hal ini sebagai dasar pemikiran bahwa pada jaman Buddha, para siswanya hanya mendapatkan pengajaran secara oral, dapat dikatakan seseorang yang banyak mendengar adalah mereka yang memiliki pengetahuan luas.
Definitif yang muncul merupakan suatu pandangan beda atas permasalahan yang sama. Gejala demikian yang sedang trend dalam pendidikan Indonesia saat ini. Semua mengaktualisasikan diri dalam definitif-definitif yang membuta. Pandangan abstrak inilah membuat seseorang dalam perumpamaan menuntun di dalam keremangan. Buddha sangat hebat, dengan pengetahuannya yang sempurna, mencoba untuk menepis definitif-definitif yang sia-sia lebih kepada praktis yang nyata. Hal ini menjadikan pendidikan barat lebih maju setahap dibandingkan dengan pendidikan di Indonesia. Pendidikan barat mengadopsi ajaran Buddha untuk aplikasi pembelajaran. Pendidikan barat lebih kepada life skill, di Indonesia cenderung pada teori yang bersifat penguasaan definisi daripada bentuk praktek.
Pendidikan selain menambah pengetahuan, kedudukan sosial, kesenangan dan membentuk ekonomi, Buddha menyatakan bahwa dengan pendidikan akan membentuk manusia yang bisa mengerti kondisi hidup sebagaimana adanya (suchness). Buddha datang di dunia ini secara khusus adalah sumber dari segala sumber untuk memperoleh pengetahuan. Samana Phala Sutta (Khotbah tentang manfaat melaksanakan kehidupan sebagai seorang pertapa) adalah bukti nyata tentang adanya berbagai pendangan salah dan keliru, jika dibiarkan akan membawa pada kesengsaraan berkepanjangan.
Pandangan tentang makna hidup yang nihilisme tidak ada akibat apapun yang akan diperoleh dalam kehidupan mendatang, sebab kehidupan ini hanya sekali. Menggunakan kesempatan ini dengan mengumbar kesenangan (nafsu indria). Pandangan demikian tidak hanya ada dalam kehidupan pra Buddha, masyarakat modern justru menggunakan istilah dengan sebutan hedonisme. Lainnya membuat statement hidup adalah nihilisme atau hedonisme, ada pendapat lagi bahwa tubuh ini adalah sumber penderitaan, maka kita kekang supaya memberikan kebahagiaan. Dua pandangan ekstrim ini yang ditentang keras oleh Buddha sebagai figur luar biasa, guru para dewa dan manusia yang tiada taranya di alam semesta.
Buddha secara tegas menyatakan bahwa seseorang harus memiliki pengetahuan luas. Individu yang tidak mau belajar akan menjadi sapi, dagingnya bertambah tetapi kebijaksanannya tidak berkembang (Dh.152). Budhagosa menyebutkan bahwa memiliki pengetahuan luas merupakan salah satu dari enam faktor yang membuat seseorang berhasil menanggalkan atau menyingkirkan keragu-raguan (vicikkicha) dan kegelisahan (uddhacca).
4. Berbicara Baik Tentang Siswa Di Antara Para Sahabatnya
Sila keempat dalam Pancasila Buddhis yaitu Musāvādā veramanī – menahan diri dari berbicara yang tidak benar. Sila ini meliputi semua bentuk dan tingkat kebohongan, secara jasmani maupun ucapan (verbal). Tujuan dari sila ini adalah untuk menghindari kata-kata yang merusak nama atau reputasi orang lain. Setiap individu mengharapkan kejujuran dari individu lain dalam hal apapun yang dinyatakan. (Khemiyo, 1978:22).
Pembicaraan yang sopan, selain tidak melukai siapapun, adalah contoh kelakuan yang harus diberikan pada siswa dalam lingkungan sekolah, yang dengan wajar meniru dan dapat dipengaruhi oleh contoh-contoh dan lingkungan. Empat sifat mulia negatif dari seorang guru baik yaitu menahan diri dari menipu, bermulut manis, menjilat, serta membawa siswa atau kawannya pada kehancuran. Guru juga memiliki empat sifat mulia positif, yaitu selalu membantu siswanya, berada didekatnya pada saat diperlukan, memperlihatkan kepadanya tentang apa yang bermanfaat dan memiliki cinta kasih (Khemiyo, 1978:63).
Kerukunan merupakan kesenangan, kegembiraan dan kebahagiaannya. Kerukunan adalah tujuan pembicaraannya. Ia mengucapkan kata-kata yang lembut, enak didengar, menyenangkan, menarik hati, sopan santun dan damai kepada banyak orang. Ia adalah seorang yang berbicara pada saat yang tepat sesuai dengan kenyataan tentang kebajikan, tentang Dhamma dan Vinaya, Ia mengucapkan kata-kata yang bernilai (M.i.345).
Buddha memberikan petunjuk tentang lima hal yang harus diperhatikan guru kepada siswanya, yaitu: 1) aku akan berbicara pada waktu yang tepat, bukan pada waktu yang tidak tepat, 2) aku akan berbicara tentang sesuatu yang merupakan fakta, 3) aku akan berbicara dengan lemah lembut tidak dengan kasar, 4) aku akan berbicara mengenai tujuan, tidak mengenai bukan tujuan, 5) aku akan berbicara dengan pikiran diliputi cinta kasih, bukan dengan pikiran yang diliputi niat buruk (A.iii.195).
Perbuatan baik atau buruk jelas terkait dengan tujuan dan manfaat. Dalam pembicaraan dengan Pangeran Abhaya, diuraikan bahwa Buddha menahan diri untuk mengemukakan hal-hal yang tidak bertujuan atau bermanfaat. Apa yang benar tidak perlu dikemukakan apabila tidak ada tujuan atau manfaatnya. Tetapi hal-hal yang benar walau tidak disenangi orang lain harus dikemukakan apabila ada tujuan atau manfaatnya. Itupun harus dilakukan pada saat yang tepat (M.i.395).
Bāhusaccañca sippañca Vinayo ca susikkhito
Subhāsitā ca yā vācā Etammańgalamuttamam
Artinya:
Berpengetahuan luas, berketerampilan,
Terlatih baik dalam tata susila,
Dan bertutur kata dengan baik,
Itulah berkah utama (Mańgala Sutta, 2005:79).
5. Menjaga Kesejahteraan Siswa Dari Setiap Jurusan
Robert M. Gagne dalam meninjau proses belajar, perlu adanya perhatian khusus diberikan pada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh siswa. Yaitu mengenai intern dan ekstern. Ternyata mempunyai kegunaan yang praktis dalam perkembangan dan kemajuan seorang tenaga pengajar (guru), yang mendampingi siswa dalam menjalani suatu proses belajar. Dimana belajar adalah suatu proses yang terjadi di dalam individu yang diaktifkan oleh orang itu sendiri. Pengaruh lingkungan atau factor luar juga tidak bisa memaksa sesuatu terhadap siswa sampai ia mau melakukan dengan kemampuannya sendiri dan disesuaikan oleh siswa itu sendiri (Vajhiradhammo, 2003:35). Buddha menegaskan bahwa “ Suci atau tidak seseorang tergantung pada dirinya sendiri, tidak seorangpun dapat membuat suci bagi orang lain” (Dh.165).
Belajar bersifat individu dan unik, setiap individu mempunyai gaya dalam belajar serta kesempatan kesanggupan dalam mengembangkan potensi dirinya hingga bisa mandiri. Para siswa Buddha melatih diri dan mencapai pencerahan dengan berbagai cara. Manusia adalah makhluk yang merdeka, dalam menentukan hidupnya. “Sesuai dengan apa yang diperbuatnya itulah yang akan dipetiknya begitu pula semua makhluk mewarisi Karmanya sendiri” (M.ii.203).
Belajar merupakan bentuk dari proses karma dan pengalaman dalam hidup. Pengalaman bertanggung jawab pada dirinya yang berhubungan dengan kekuatan karma maka akan mendorong manusia untuk berkarya sesuai dengan emosinya, intelektualitas, sosial dan spiritual. Buddha bersabda: “Segala keadaan batin didahulukan oleh pikiran, dipimpin oleh pikiran, dan dibentuk oleh pikiran. Pikiran jahat atau baik, oleh karena itu penderitaan dan kebahagiaan akan selalu mengikutinya seperti roda pedati mengikuti jejak kaki lembu yang menariknya dan bayang-bayang yang tidak pernah meninggalkannya” (Dh.1-2).
Pendidikan merupakan salah satu cara untuk memperoleh kesejahteraan, baik kesejahteraan material maupun rohani. Buddha Gotama dalam Maha Parinibbana Sutta mengajarkan tujuh sifat baik yang membawa kesejahteraan bila dilaksanakan yaitu: “memiliki keyakinan, memiliki perasaan malu dan takut melakukan perbuatan-perbuatan tidak baik, selama mereka belajar dengan pandai, ulet, penuh perhatian dan bijaksana” (Yulietmi, 2003:58).
Buddha tidak hanya mengajarkan untuk penuh ulet dan semangat dalam belajar tetapi harus di dasari dengan keyakinan dan moral yang baik yaitu malu dan takut berbuat jahat. Hal ini menimbulkan kebijaksanaan dalam mengaplikasikan ilmu yang diperoleh, sehingga menumbuhkan kemandirian dan kekuatan untuk berkarya secara benar.
Kehidupan manusia tidak terlepas dari masalah. Begitu juga dengan pertumbuhan yang dialami seorang siswa. Manusia dalam perjalanan hidupnya untuk meraih apa yang didambakan tidak luput dari berbagai kesulitan, halangan, dan rintangan. Apa yang didambakan masih belum diketahui sehingga memerlukan guru untuk menentukan mengetahui yang sebaiknya dituju dan cara mencapainya dengan memperhitungkan kondisi dirinya.
Siswa Buddha sebagai seorang Buddhis berada dalam situasi proses, yaitu proses kebuddhaan atau Buddhanisasi. Pendidikan adalah suatu proses humanisasi, suatu proses penyadaran anak didik tentang dirinya sendiri dan akhirnya mencapai tujuannya. Informasi berupa pengetahuan atau ilmu pengetahuan yang lebih teknis yaitu memasak, menggunakan komputer dan internet (Priastana, 2000:140-145). Pengajaran, pewartaan ajaran Buddha adalah demi proses kebuddhaan yang terdapat dalam diri setiap siswa Buddha atau dalam diri setiap manusia. Hal ini sejalan dengan cita-cita atau prinsip dasar pendidikan sebagai suatu proses humanisasi.
Buddha mengajar tentang Bhikkhu yang sibuk belajar, Bhikkhu yang sibuk mengajar, Bhikkhu yang sibuk menyulang, Bhikkhu yang sibuk merenung dan Bhikkhu yang hidup dekat dengan Dhamma. Dilakukan oleh guru yang penuh welas asih karena kasih sayangnya, mencari kesejahteraan bagi para siswanya. Hal itu yang telah dilakukan Buddha untuk siswaNya. Ini adalah akar-akar pohon, Bhikkhu ini adalah gubuk-gubuk kosong. Bermeditasilah Bhikkhu jangan lalai, jangan sampai kalian menyesal nantinya (A.v.73).
Guru mengajar demi kepentingan anak didiknya. “Apakah yang seharusnya dilakukan oleh guru untuk siswa-siswanya karena kasih sayang demi kesejahteraan mereka dan welas asih bagi mereka, itu sudah dilakukan untukmu, Cunda atas dasar cinta kasih, apa yang harus dilakukan oleh seorang guru, yaitu mengusahakan kebahagiaan bagi murid-muridnya (M.i.46). Buddha menyatakan bahwa “individu bijaksana memuji ketekunan dalam melakukan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat; karena orang bijaksana dan tekun akan memperoleh manfaat ganda: kesejahteraan disini dan kini serta kesejahteraan dalam kehidupan yang akan datang. Dan karena telah mewujudkan kebajikan, orang bijaksana itu disebut guru” (It.23).
Sehubungan dengan sila Buddha Dhamma atau perbuatan yang sesuai dengan sila disampaikan Buddha kepada Rahula. Buddha menjelaskan sebagai berikut:
“jika ada suatu perbuatan, Rahula, yang ingin kamu lakukan bayangkan demikian: apakah perbuatan ini mengakibatkan kerugian saya atau kerugian orang lain, atau keduanya, adakah perbuatan buruk membawa penderitaan. Perbuatan semacam ini harus kamu hindari. Jika ada suatu perbuatan, Rahula, yang ingin kamu lakukan bayangkanlah demikian: apakah perbuatan ini tidak mengakibatkan kerugian saya atau kerugian orang lain atau keduanya, adakah perbuatan baik ini membawa kebahagiaan. Perbuatan semacam ini harus kamu lakukan berulang-ulang” (M.i.415).


E. PENUTUP

A. Simpulan
Guru mempunyai 2 (dua) tugas utama yaitu mendidik dan mengajar. Guru merupakan subyek dalam kegiatan proses belajar-mengajar. Motivasi dan etos kerja yang tinggi harus dimiliki oleh guru untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif. Gejala-gejala dari perilaku siswa yang menyimpang merupakan tantangan bagi guru untuk melaksanakan salah satu dari tugas utamanya yaitu: mendidik. Guru mendidik dengan maksud untuk merubah tingkah laku siswa dari yang tidak baik kearah yang lebih baik dan terpuji sesuai dengan tujuan pendidikan. Guru sebagai panutan di sekolah dan di masyarakat hendaknya bisa melaksanakan kewajibannya dengan baik dan benar, tidak bermalas-malasan dalam mengajar menjadikan siswa merasa dimanusiakan oleh guru sehingga dapat menciptakan produk siswa berkualitas yang dapat berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
Guru merupakan perilaku mengajar dan siswa merupakan perilaku belajar. Guru menjadi teladan bagi siswa-siswanya. Apa yang dikatakan dan diperbuatnya harus bisa dipertanggungjawabkan. Guru sebagai fasilitator dan motivator bagi siswa dalam pencapaian tujuan pendidikan, yang menjadikan siswa sebagai pribadi mandiri, pelajar efektif dan ramah bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Guru dan siswa saling berinteraksi melakukan hubungan timbal balik. Guru mengajar (memberi semua ilmu pengetahuan yang dimiliki terhadap siswa) dan mendidik (memberi contoh yang baik yang berguna pada saat ini maupun yang akan datang yang menjadikan siswa terlindungi di lingkungan sekolah dan di masyarakat). Sebaliknya siswa juga menghormati guru dimanapun ia berada tidak hanya di sekolah saja, apa yang diajarkan oleh guru diperhatikan dan dilaksanakan dengan hati tulus, ikhlas, sungguh-sungguh untuk membentk jati diri yang produktivitas. Antara guru dn siswa memiliki hubungan yang sangat erat. Guru tanpa siswa tidak dapat mengajar sebaliknya siswa tanpa guru tidak dapat belajar.
Guru diharapkan untuk memiliki kemampuan dalam mengajar para siswanya, agar siswa mengerti dan mampu melaksanakan ajaran/materi yang berfaedah bagi dirinya. Kebodohan merupakan sumber dari penderitaan. Guru mengajarkan bagaimana cara menyingkirkan kebodohan (awal penderitaan) menuju pencerahan. Buddha sebagai guru mengajarkan ajaran secara bertahap sehingga siswa mampu menerima makna demi makna yang diajarkan-Nya. Guru mengajar dengan penuh kasih sayang, demokratis, toleransi dan tidak otoriter-doktriner. Dharma Buddha sebagai pelita yang menerangi kegelapan, jalan untuk pencapaian tujuan yaitu pembebasan/Nibbana. Inti ajaran Buddha adalah janganlah berbuat jahat, tambahkanlah kebajikan, sucikan hati dan pikiran. Dengan semangat dan giat belajar dapat mengubah hidup menjadi lebih baik terbebas dari penderitaan. Lingkungan mempengaruhi kondisi belajar siswa. Peran orang tua dalam keluaraga sangat penting untuk mencetak anak menjadi lebih bermoral, berkelakuan baik. Dalam lingkungan masyarakat diharapakan anak atau peserta didik dapat mengenali diri sendiri dan dapat berinteraksi baik dengan masyarakat serta bertingkah laku sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Dalam lingkungan sekolah diharapkan siswa dapat bertingkah laku sesuai dengan norma-norma sekolah dan berkepribadian Pancasila Buddhis.
Menurut Sigalovada sutta guru memiliki 5 (lima) kewajiban yaitu: 1. melatih siswa dengan baik, guru menanamkan pada siswa tentang pendisiplinan diri untuk menaklukkan diri sendiri, memiliki hiri dan ottapa sehingga tingkah lakunya dapat terkontrol dengan baik di lingkungan keluarga, sekolah dan masayarakat, 2. mengajar siswa hingga mahir, agar siswa mengetahui secara mendalam dan melihat dengan benar apa yang pantas diketahui dan dilihat seperti dalam ajaran Ehipassiko yaitu datang, lihat dan buktikan kebenaran sejati, 3. memperdalam pengetahuan siswa dalam ilmu dan seni, guru menganjurkan siswanya agar memiliki banyak penegathuan dan ketrampilan yang dapat menyingkirkan kejahatan, mengembangkan kebajikan menuntun diri menuju kesucian, 4. berbicara baik tentang siswa di antara para sahabatnya, guru berbicara tentang sesuatu yang merupakan fakta, apa yang benar tidak perlu dikemukakan apabila tidak ada tujuan atau manfaatnya, tetapi hal-hal yang benar walau tidak disenangi oranglain harus dikemukakan apabila ada tujuan atau manfaatnya dan harus dilakukan pada saat yang tepat, 5. menjaga kesejahteraan bagi para siswanya, siswa diharapkan membayangkan tentang perbuatan yang akan dilakukan mengakibatkan kerugian atau tidak terhadap diri sendiri atau orang lain atau keduanya dan perbuatan baik bisa membawa kebahagiaan.

Rujukan:
Danim, Sudarwan. 2002. Inovasi Pendidikan. Bandung: Penerbit Pustaka Setia
Depdiknas. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Dhammapada Atthakata, Kisah-kisah Dhammapada, dipublikasikan Samvara. 2005. Medan: Bodhi Buddhis Centre Indonesia.
Dhammasubho, Thera. 2003. Mencari Format Pendidikan Buddhis abad 21. Jakarta: Buddha Gotama Society.
Dialogues Of The Buddha (Digha-Nikaya) Volume I, Terjemahan Davids, Rhys. 1977. London: Pali Text Society
Dialogues Of The Buddha (Digha-Nikaya)Volume II, Terjemahan Davids, Rhys. 1989. London: Pali Text Society
Dialogues Of The Buddha (Digha-Nikaya)Volume III, Terjemahan Davids, Rhys. 1977. London: Pali Text Society
Hariyanto, Yeni. 2003. Mencari Format Pendidikan Buddhis abad 21. Jakarta: Buddha Gotama Society.
Indaratano, Bhikkhu. 2003. Mencari Format Pendidikan Buddhis abad 21. Jakarta: Buddha Gotama Society.
Jansanjivaputta. 1991. Manggala Berkah Utama. Bangkok: Lembaga Pelestari Dhamma.
Khemiyo, Bhikkhu. 1978. Pancasila dan Pancadharma. Malang: Yayasan Dhamma Dipa Arama.
Kittiphalo. 2003. Wahana Komunikasi & Kreativitas Intelektual Buddhis. Ampel: Media Smaratungga.
Lay, U Ko. 2000. Panduan Tipitaka (Guide To Tipitaka). Lanny Anggawati & Wena Cintiawati (Terj.). Klaten: Vihara Bodhivamsa.
Mańgala Sutta. 2005. Paritta Suci. Jakarta: Sańgha Theravada Indonesia.
Narada. 1998. Sang Buddha dan Ajaran-AjaranNya Bagian 1. Jakarta: Yayasan Dhammadipa Arama.
Narada. 1995. Sang Buddha dan Ajaran-AjaranNya Bagian 2. Jakarta: Yayasan Dhammadipa Arama.
Priastana, Jo. 2000. Buddha Dharma Kontekstual. Jakarta: Yayasan Yasodhara Puteri
Suparmin. 2004. Motivasi dan Etos Kerja. Biro Kepegawaian Sekretariat Jenderal: Departemen Agama RI
Surya, Mohamad. 2003. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Jakarta: CV. Mahaputra Adidaya.
Sutomo. 1999. Profesi Kependidikan. Semarang: CV IKIP Semarang Press.
The Book of the Discipline (Vinaya Pitaka) Volume I, Terjemahan Horner, I.B. 1982. London: Pali text Society.
The Book of the Discipline (Vinaya Pitaka) Volume II, Terjemahan Horner, I.B. 1982. London: Pali text Society.
The Book of the Gradual Sayings (Anguttara-Nikāya) Volume I. Terjemahan Woodward, F. L 1989. Oxford: Pali Text Society.
The Book of the Gradual Sayings (Anguttara-Nikāya) Volume II. Terjemahan Woodward, F. L. 1982. London & Boston: Pali Text Society.
The Book of the Gradual Sayings (Anguttara-Nikāya) Volume III, Terjemahan Hare, E.M. 1988. Oxford: Pali Text Society
The Book of the Gradual Sayings (Anguttara-Nikāya) Volume IV, Terjemahan Hare, E.M. 1989. Oxford: Pali Text Society
The Book of the Gradual Sayings (Anguttara-Nikāya) Volume V, Terjemahan Woodward, F.L & Hare, E.M. 1978. London: Pali Text Society
The Book of the Kindered Sayings (Samyutta-Nikāya) Volume III. Terjemahan Woodward, F.L. (& MRS. Rhys Davids (Ed.). 1975. London: Pali Text Society.
The Book of the Kindered Sayings (Samyutta-Nikāya) Volume IV. Terjemahan Woodward, F.L. (Trnsl.) & MRS. Rhys Davids (Ed.). 1980. London: Pali Text Society.
The Book of the Kindered Sayings (Samyutta-Nikāya) Volume V. Terjemahan Woodward, F.L. & MRS. Rhys Davids (Ed.). 1990. Oxford: Pali Text Society.
The Elders’ Verses I (Theragäthä). Terjemahan Norman, K.R. 1990. Oxford: Pali Text Society.
The Group of Discourses (Sutta-Nipāta) Volume I. Terjemahan Norman, K.R. 1984. London: Pali Text Society.
The Middle Length Sayings (Majjhima Nikaya) Volume I, Terjemahan Horner, I.B. 1987. London: The Pali Text Society.
The Middle Length Sayings (Majjhima Nikaya) Volume II.Terjemahan Horner, I.B. 1989. Oxford: Pali Text Society.
The Middle Length Sayings (Majjhima Nikaya) Uparipannasa Volume III. Terjemahan Horner, I.B. (Trnsl.). 1990. Oxford: Pali Text Society.
The Minor Anthologies of the Pali Canon Volume II: Verses of Uplift (Udana); As it was said (Itivuttaka). Terjemahan Woodward, F.L. 1975. London: Pali Text Society.
The Minor Reading (Khuddakapatha). Terjemahan Ňanamoli. 1978.London: Pali Text Society.
The Word of the Doctrine (Dhammapada). Terjemahan Norman, K.R. 2000.Oxford: Pali Text Society.
Tim Penyusun. 2003. Materi Kuliah Sejarah Perkembangan Agama Buddha. Jakarta: CV. Dewi Kayana Abadi.
Toto. Tanpa Tahun. Mengenal Tantrayana Dalam Agama Buddha (II). http://www.walubi.or.id/wacana_056.shtml#scene_1. diakses (10-05-07)
UU RI No.14. 2005. Undang-Undang Tentang Guru dan Dosen. Jakarta: PT Media Pustaka.
Wijaya-Mukti, Krishnanda. 2003, Wacana Buddha Dharma. Jakarta: Yayasan Dharma Pembangunan dan Ekayana Buddhis Centre.

Post a Comment